‘Abdurrahman Bin ‘Auf

  • akhwat
  • Thursday 31 March 2016
  • Uncategorized
  • 0

Beliau adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf bin Abdu Auf bin Abu bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay, Al-Qurasyi Az-Zuhri Al-Makki Al-Madani. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan di Mekkah sepuluh tahun setelah tahun Gajah. Ketika sinar kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memancar pada saat itu ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu telah berusia tiga puluh tahun. Ia lebih muda sepuluh tahun dari Rasulullah dan lebih tua tiga tahun dari Umar bin Khattab. Ayahnya bernama ‘Auf bin Abdu Auf bin Abdu Al-Harits Az-Zuhri, yang merupakan salah seorang tokoh terkemuka di Bani Zuhrah. Sedangkan ibunya bernama Asy-Syifa’ binti Auf Az-Zuhriyah, ia masuk Islam berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus menjadi sahabiyah yang baik, dan mendapatkan kebahagiaan dengan keislamannya.

‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu adalah salah satu Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal sebagai orang yang sangat dermawan dan sangat memperhatikan dakwah Islam. Beliau pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikannya uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan, dan kepada Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dalam hadits disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabatnya, disana terdapat ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu, namun beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apapun kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu.

Melihat keadaan tersebut, maka ‘Abdurrahman bin ‘Auf keluar dengan menangis dan bertemu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, kemudian Umar bertanya :”Apa yang membuatmu menangis ?“ Ia pun menjawab :”Rasulullah memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal ini akibat suatu keburukan padaku.” Kemudian Umar bin Khattab menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keluhan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab :”Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.”

‘Abdurrahman bin ‘Auf memiliki beberapa keutamaan diantaranya, memiliki harta yang banyak dan menginfakkannya dijalan Allah subhanahu wa Ta’ala, namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan :”Kami Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami pun tidak bisa bersabar.”

Suatu hari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu diberi makanan, padahal dia sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush’ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal, tidak ada kain kafan yang menutupinya selain burdah. Apabila kain itu ditutupkan dikepala, maka kakinya yang terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, maka kepalanya menjadi telihat. Begitu pula dengan Hamzah paman Rasulullah, ketika meninggal dia juga terbunuh, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah, padahal dia lebih baik dariku. Aku kawatir balasan-balasan kebaikanku diberikan didunia ini, kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.”
Berkaitan dengan kisah diatas, Naufal bin Al-Hudzali berkata, “Dahulu ‘Abdurrahman bin “Auf radhiallahu ‘anhu adalah teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang kerumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami, “Wahai Abu Muhammad (panggilan ‘Abdurrahman), apa yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.” Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurrahmân bin `Auf pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan. Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa `Abdurrahmân bin Auf radhiallahu ‘anhu telah memerdekakan 3000 orang.”

‘Abdurrahmân bin `Auf radhiallahu ‘anhu meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur dipemakaman Baqi` dan `Utsmân bin Affân radhiallahu ‘anhu ikut menyalatkannya pada saat itu.
Demikian kisah tentang seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat kaya, seorang yang sangat dihormati pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua.
Wallahu a`lam

Artikel : www.yufid.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *