Adab – Adab Bercanda

  • admin
  • Saturday 21 April 2018
  • Adab
  • 0

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah Rabb semesta Alam, atas segala rezki dan karunia tak terhingga yang diberikan oleh-Nya. Pemberi perlindungan dan Rahmat yang semoga kita senantiasa mendapatkannya. Shalawat dan salam kita panjatkan kepada panutan terbaik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, seorang hamba yang telah mengajarkan kita setiap aktivitas kehidupan, dan untuk tidak melupakan tujuan hidup kita di dunia. Semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabat dan segenap pengikut setia mereka.

Dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, terkadang kita merasakan kejenuhan, kepenatan, atau kegelisahan. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita bercanda dengan keluarga atau dengan sahabat. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan dibolehkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga kadang bercanda, karena beliau juga merupakan manusia biasa., kadang kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:
Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum. (H.R. Bukhâri dan Muslim)

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. (H.R. Ahmad dengan sanad yang shahîh)

Jika kita bercanda, sebagai seorang muslim, kitaharus memperhatikan beberapa hal yang penting:

  • Meluruskan Tujuan.

Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

  • Jangan Melewati Batas.

Sebagian orang terlalu berlebihan dalam bercanda, sehingga bisa menjatuhkan wibawa dan martabatnya di hadapan manusia. Orang-orang akan memandangnya rendah, karena ia telah menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

  • Jangan Bercanda Dengan Orang Yang Tidak Suka Bercanda.

Terkadang kita bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan mengakibatkan hubungan kita dengan orang tersebut merenggang. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

  • Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius.

Beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, ketika memberikan persaksian, majelis ilmu, majelis hakim, dan lain sebagainya.

  • Hindari Perkara-Perkara Yang Dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Saat Bercanda.

Tidak boleh bercanda dalam perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya sebagai berikut.

  1. Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda.
    Ada orang yang bercanda dengan memakai sesuatu untuk menakut-nakuti temannya. Misalnya, seperti memakai pakaian hantu, berteriak dalam kegelapan, atau menyembunyikan barang milik temannya, atau yang sejenisnya. Perbuatan seperti ini tidak dibolehkan.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh. (H.R. Abu Dawud dan at-Tirmidzi .
  2. Berdusta saat bercanda.
    Banyak orang tak segan berdusta dengan alasan bercanda. Padahal berdusta dalam bercanda ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia. (H.R. Ahmad, Abu Dawud,dan at-Tirmidzi .
  3. Melecehkan sekelompok orang tertentu. Dalam bercanda, kita tidak boleh melecehkan orang-orang tertentu, penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, atau bahasa tertentu, atau menyebut aib mereka dengan maksud untuk bercanda dan membuat orang lain tertawa. Perbuatan ini sangat dilarang.
  4. Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain.
    Sebagian orang bercanda dengan temannya lalu ia mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan keji. Sangat disayangkan, hal seperti ini nyata terjadi di tengah orang-orang kebanyakan dan jahil. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan keterlaluan dalam bercanda, sehingga melampui batas.
  • Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.

Seringkali bercanda seperti ini akan berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian.
Adapun bercanda dengan kata-kata yang buruk tidak dibolehkan sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (al-Isrâ`/17:53)

  • Tidak Banyak Tertawa.

Banyak orang yang tertawa sampai terpingkal-pingkal ketika bercanda. Ini bertentangan dengan sunnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda :
“Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”
Seperti yang telah dijelaskan di atas dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Banyak tertawa dapat mengeraskan hati dan mematikannya.

  • Bercanda Dengan Orang-Orang Yang Membutuhkannya.

Seperti dengan kaum wanita dan anakanak. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana yang beliau lakukan terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dan al Hasan bin Ali, serta seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair.

  • Jangan Melecehkan Syiar-Syiar Agama Dalam Bercanda.

Seperti bercanda para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat al-Qur‘an dan syiarsyiarnya, wal iyâdzu billâh! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekanejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?”. (at-Taubah/9:64-65)

Dan mengangungkan syiar agama merupakan tanda ketakwaan hati. Allah berfirman: Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (al-Hajj/22:32).

Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bercanda. Bercanda boleh, tapi jangan melanggar adab-adab dalam bercanda.
Wallahua’lam bis showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *