Adab Shalat Berjamaah di Masjid

  • akhwat
  • Sunday 28 June 2015
  • Uncategorized
  • 0

Shalat berjamaah di masjid adalah suatu amalan yang besar dan mulia. Namun tentu saja supaya amalan ini sempurna, kita harus mengikuti adab yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adab tersebut harus diperhatikan betul oleh muslimin yang ingin melakukan shalat berjamaah di masjid.

  • Berpakaian yang baik/bagus

Saat hendak shalat berjamaah di masjid, baiknya kita memilih pakaian yang bagus untuk dikenakan. Dalam sebuah firman Allah memerintahkan kita untuk tidak sekedar menutup aurat, namun juga memperbagus pakaian, apalagi ketika pergi ke masjid menunaikan shalat berjamaah. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang berbunyi:

 يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Artinya: Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid.(Q.S Al A’Raf:31)

Dari ayat diatas dapat diambil pelajaran bahwa kita dianjurkan untuk berhias ketika shalat, terlebih ketika hari Jum’at, termasuk memakai parfum bagi pria. Namun saat ini banyak kita jumpai orang yang pergi shalat ke masjid hanya mengenakan pakaian ala kadarnya, padahal ia memiliki pakaian yang bagus. Pakaian itu juga terkadang penuh dengan tulisan atau gambar yang jahil yang memaksa orang yang dibelakangnya membaca atau melihat sehingga mengganggu konsentrasi dan khusyuknya sholat.

Allah itu indah dan menyukai keindahan, memakai pakaian yang baik tentu saja harus dilakukan karena kita menghadap Allah Ta’ala.

 

  • Melakukan wudhu dari rumah

Ada baiknya untuk berwudhu sejak dari rumah sebelum berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits, yang berbunyi:

 مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

 

  • Membaca doa menuju masjid

Setelah mensucikan diri, maka hal yang dilakukan adalah segera berangkat. Namun sebelum berangkat ada baiknya untuk berdoa. Hal ini sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa kita diwajibkan untuk mengucapkan doa ketika keluar rumah. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi, laa haula wa laa quuwata illa billah” (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda, “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata kepadanya (setan yang akan menggodanya, pent.), “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmizi)

 

Dan ketika menuju masjid membaca:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

Allahummaj’al fii qolbi nuura wa fii bashari nuura wa fii sam’i nuura wa ‘an yamiinihi nuura wa ‘an yasaarii nuura wa fauqi nuura wa tahti nuura wa amaami nuura wa khalfi nuura waj’al lii nuura

Yang artinya: “Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dari kananku, cahaya dari kiriku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah untukku cahaya” (H.R Muslim)

  • Tidak melewati bagian depan orang lain yang sedang sholat

Ketika berjalan di dalam masjid untuk mencari posisi, jangan sampai melewatkan diri di depan orang yang sedang shalat. Hal in dikarenakan bahwa dosa lewat di depan orang sholat itu sangat berat sekali. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni:

 لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40, itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • Melaksanakn shalat dua rakaat sebelum duduk

Adab memasuki masjid yang selanjutnya adalah shalat dua rakaat sebelum duduk. Shalat ini diberi istilah oleh ulama dengan nama tahiyatul masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِ

Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.”  (H.R. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksudkan dengan shalat tahiyatul masjid adalah sholat dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid. Tujuan shalat ini sudah tercapai dengan shalat apapun yang dikerjakan sebelum duduk. Baik itu shalat sunnah wudhu, shalat sunah rawatib, atau bahkan shalat wajib sudah menjadi tahiyatul masjid jika dilakukan sebelum duduk.

 

  • Mengadakan sutrah ketika shalat

Sutrah adalah pembatas dalam shalat. Sutrah bisa berupa tembok, tiang, orang yang sedang duduk/sholat. Sutrah disyariatkan untuk orang yang shalat sendirian dan imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud)

 

Hukum memasang sutrah adalah wajib menurut sebagian ulama karena adanya perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam menghadap sutrah dalam shalat berjamaah dan sutrah bagi makmum adalah sutrah imam. Dalam hal ini sutrah berfungsi supaya tidak ada orang yang lewat di depannya, siapapun itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

  إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْ فِي نَحْرِهِ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنّمّا هُوَ شَيْطَانٌ

 “Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang menutupinya dari manusia (menghadap sutrah), lalu ada seseorang ingin melintas di hadapannya, hendaklah ia menghalanginya pada lehernya. Kalau orang itu enggan untuk minggir (tetap memaksa lewat) perangilah (tahanlah dengan kuat) karena ia hanyalah setan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • Menjawab panggilan Adzan

Pada saat mendengar suara adzan, sangat dianjurkan menjawab adzan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

 “Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tuntunan mengenai cara menjawab adzan adalah dalam sebuah hadits berikut ini:

 إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَقاَلَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

 “Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka hendaklah kalian yang mendengar menjawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dijawab, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dijawab “Laa Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka maka dijawab “Laa Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka dijawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Dan muadzin berkata, “Laa Ilaaha illallah”, maka dijawab, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.”(HR. Muslim)

 

Setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan, kita dianjurkan untuk membaca doa sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut Haditsnya:

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang setelah mendengar adzan membaca doa : Allahumma Robba hadzihid da’wattit taammah was shalatil qaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzi wa ‘adtahu (Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya) melainkan dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”

(HR. Bukhari)

 

  • Sesudah masuk masjid, tidak keluar masjid dengan alasan apapun

Ketika kita sudah ada di dalam masjid, tidak diperbolehkan bagi kita untuk keluar lagi hingga selesainya shalat wajib. Hal ini tidak berlaku jika ada udzur seperti wudhu karena batal, buang air kecil atau keperluan lain yang mengembalikan seseorang kepada kesucian untuk shalat. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Abu as Sya’tsaa, beliau berkata:

 كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kamudian muadzin mengumandangkan adzan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata : “ Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam”(H.R Muslim)

 

Berdasarkan hadits diatas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa perbuatan keluar dari masjid setelah ditunaikannya adzan hingga shalat wajib selesai ditunaikan adalah tidak disukai.

 

  • Menggunakan waktu adzan dan iqomah untuk berdoa

Menggunakan waktu diantara adzan dan iqomah untuk melakukan amalan yang berfaedah. Seperti misalnya berdzikir dan berdoa. Bisa juga dengan melakukan shalat sunnah qabliyah. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

 الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi)

Pada waktu tersebut tidak selayaknya digunakan untuk mengobrol masalah yang tidak bermanfaat.

  • Tinggalkan shalat sunnah saat iqomah dikumandangkan

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika shalat wajib telah dilaksanakan, maka tidak beleh ada shalat lain selain shalat wajib” (H.R Muslim )

 

jika seorang telah mendengar iqomah, maka ia harus meninggalkan shalat sunnah meskipun saat itu tengah shalat sunnah. Ia harus segera bergabung dengan imam seperti jamaah lainnya menunaikan shalat wajib.

 

  • Raihlah shaf yang utama

Di antara kesempurnaan shalat berjamaah adalah sebisa mungkin menempati shaf yang utama. Bagi laki-laki yang paling depan, adapun bagi wanita yang paling belakang. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 خَيْرُ صُفُوفِ الِرجَالِ أَوِّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama.” (H.R.Muslim)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لاَسْتَهَمُوْا

Seandainya mereka mengetahui keutamaan (pahala) yang diperoleh dalam shaf yang pertama, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Merapikan barisan shalat

Dijelaskan di dalam hadits dari sahabat Abu Abdillah Nu’man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

 “Hendaknya kalian bersungguh- sungguh meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah sungguh-sungguh akan memperselisihkan di antara wajah-wajah kalian” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Jangan mendahului gerakan imam

Imam shalat dijadikan sebagai pemimpin dan wajib diikuti dalam shalat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya“. (H.R. Bukhari)

Rasulullah memberikan ancaman keras bagi seseorang yang mendahului imam, seperti disebutkan dalam hadits berikut:

Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam takut jika Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala  keledai? “(H.R Bukhari)

  • Berdoa ketika keluar masjid

Dari Abu Humaid atau dari Abu Usaid dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka hendaknya dia membaca, “Allahummaftahli abwaaba rahmatika” (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya dia mengucapkan, “Allahumma inni as-aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu).” (HR. Muslim)

Ketika kelauar masjid dmulai dengan kaki kiri terlebih dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *