Antara Dakwah dan Masakan

  • admin
  • Monday 27 April 2015
  • Uncategorized
  • 0

Bismillah …

Postingan kali ini kami akan bercerita sedikit tentang pengalaman kami dan pelajaran yang kami petik dari pengalaman tersebut. Kali ini tentang masakan. Perempuan mungkin bisa lebih paham dari laki-laki grin emotikon. Wallahu a’lam. 
Suatu saat kami sedang mempersiapkan sesuatu didapur bersama ibu dan bibi (saudari ibu). Bibi kami rahimahallah (semoga Allah merahmatinya) mengajari kami membuat sayur, yakni kangkung tumis. Resepnya cukup sederhana, tidak terlalu rumit untuk pemula seperti kami. Kalau tidak salah ingat, saat itu kami kelas satu SMA, Wallahu a’lam.

“Bumbunya sederhana saja; bawang putih, bawang merah, cabai besar, terasi, insyaAllah cukup” kata bibi sembari mengambilkan bahan-bahan tersebut. Selanjutnya kami mengambil satu ikat sayur kangkung dan kacang panjang, kami pilih dan pilah yang baik, kemudian dipotong. “Cara potongnya dibuat cantik, dimiringkan sedikit, seperti jajaran genjang”, tukas bibi sebelum kami memotong.

Bumbu-bumbunya sudah tersedia, tinggal dieksekusi diwajan yang berisi minyak panas. Bibi kami kemudian menjelaskan caranya, kami yang mengeksekusi. Pelan-pelan tapi pasti, sayur yang kami buat alhamdulillah jadi juga. Tapi ada yang berbeda. “Kenapa rasanya beda dengan yang bibi buat? Padahal bumbunya sama, cara membuatnya juga sama?” kami penasaran. Bibi dan ibu kemudian menjelaskan, “Karena memasak itu pakai perasaan.”

Saat itu kami tidak mengerti apa maksud dari bibi. Secara teori mungkin tidak sulit untuk mengetahui maksud dari perkataan itu, tapi yang sulit adalah memahaminya. Banyak yang mengetahui sesuatu dan ia mampu sebutkan kembali seluruhnya satu per satu, akan tetapi ia tidak memahaminya.

Selanjutnya kami coba untuk membuat sendiri sayur kangkung tumis tanpa arahan dari bibi. Perlahan-lahan kami mengerti, perasaan cukup berpengaruh terhadap makanan. Bahan dan takaran adalah bahan utama, tapi perasaan adalah penentunya.

Bayangkan jika kita memasak tanpa perasaan? Bawang yang ditumis mungkin akan gosong atau tidak matang sama sekali, terasi tidak tercampur dengan baik, cabai besar yang terlalu banyak, waktu masak yang terlalu lama, garam yang berlebihan, atau air yang terlalu banyak, dan lain-lain. Takaran dan merasakan cita rasa makanan sangat memerlukan perasaan. Memasak tanpa perasaan? Hasilnya juga tak akan “berperasaan” grin emotikon.

Apa hubungannya dakwah dan memasak?

Apa hubungannya dakwah dan memasak? Jawabannya banyak, tapi sebagian saja yang ingin kami sebutkan disini. Semoga bisa dipahami.

Memasak itu menggunakan perasaan supaya masakannya lebih enak dan yang memakannya pun menikmatinya. Begitu pula dakwah. Dakwah perlu menggunakan perasaan. Tujuannya agar materi yang didengarkan lebih mudah diterima dan pendengar menikmatinya.

Kenapa harus menggunakan perasaan? Akhi dan Ukhti, perlu kita ketahui, tidak sedikit diluar sana da’i yang memberikan materi dengan manhaj yang benar -ahlussunnah wal jama’ah-, tapi masyarakat sangat sulit menerimanya. Mengapa? Alasannya adalah mereka kurang menggunakan perasaan. Materi boleh benar dan baik, tapi jika tidak diolah menggunakan perasaan dan pemahaman, maka hasilnya kebencian yang akan muncul.

Hal diatas sama seperti masakan. Bahan boleh sama, tapi jika pengolahan dan hasilnya buruk, maka yang memakannya juga akan memuntahkannya, bahkan membenci masakan tersebut dan berpikir kembali untuk menerima makanan yang anda tawarkan dilain waktu.

Inilah pentingnya fiqhu da’wah, yakni pemahaman dalam berdakwah. Kita perlu menggunakan perasaan dan memperhatikan target dakwah kita. Tidak sama antara yang telah paham dan yang belum paham. Oleh karena itu, sebagai da’i kita perlu melakukan spesifikasi dan lebih berlemah lembut dalam memberikan nasehat untuk yang belum paham. Allah berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”

Lihatlah bagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat seorang Arab Badui yang kencing di masjid. Rasulullah memahami kondisi dan menggunakan kelemahlembutannya dalam menahan para Sahabat radhiallahu ‘anhum dan memaklumi Si Badui yang hampir saja dihukum oleh para Sahabat.

Tengoklah pula bagaimana sambutan Rasulullah kepada Adi ibn Hatim radhiallahu anhu saat ia masih beragama Nasrani. Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam saat itu merangkul beliau radhiallahu anhu sembari memberikan penjelasan tentang kesalahan dan kesesatan agama Nasrani. Sambutan yang cukup hangat dari Utusan Allah untuk seorang Nasrani yang disesatkan oleh para pendeta pendahulunya. Mengapa demikian? Karena Adi ibn Hatim belum tahu kesalahan dan kesesatan agama lamanya, dan belum tahu cahaya kebenaran Islam.

Begitulah luar biasanya Nabi memberikan contoh hingga kawan maupun lawan segan terhadapnya. Maka bagaimana dengan kita?

Ketika kita telah belajar tentang al-Qur’an dan Sunnah, maka sudah selayaknya kita bisa menempatkan kepada siapa cinta dan benci kita. Gunakanlah perasaan yang Allah berikan ketika menyampaikan risalah-Nya, bukan dengan wajah ketus nan bermuram durja. Walaupun materi yang kita sampaikan benar, menggunakan dalil yang shahih, dilengkapi dengan penjelasan Ulama Salaf (terdahulu) dan Kholaf (masa belakangan atau masa kini), tetapi jika kita tak menggunakan perasaan, maka jangan terlalu berharap mereka akan menerima, apalagi mencoba mengerti.

Mekarkanlah senyum mu, hiasilah lidah mu dengan nasehat-nasehat yang indah, gunakan perasaan ketika berkata, agar yang disampaikan bisa sampai ke hati pendengar dengan baik dan pendengar menikmatinya sembari memekarkan senyumnya, bahkan meminta kita agar tidak bosan memberikan nasehat setiap bertemu dengannya.

Tidak jauh berbeda seperti memasak, tenangkan hatimu, gunakan perasaanmu, olah bahan dengan tenang dan penuh perasaan, agar yang memakannya akan tersenyum, rindu terhadap masakan kita, bahkan meminta kita untuk membuatkan masakan khusus untuknya.

Jika kita belum bisa memiliki kelembutan yang hakiki, yang tidak dibuat-buat, dan “original”, maka mintalah kepada Allah dalam setiap doa. Doakan pula target-target dakwah kita agar mendapatkan hidayah dan taufiq-Nya. Jika mereka membalas dengan ejekan, maka balas ejekan mereka dengan kebaikan. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.”

Allah berfirman pula dalam surah Fussilat ayat 34-35:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar …”

Sikap kasih sayang adalah hal yang sangat penting. Imam Muslim meriwayatkan dari Jarir ibn Abdillah radhiallahu ‘anhu, ia menyampaikan, “Saya pernah mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang terhalang dari sikap kasih sayang, berarti ia dihalangi dari kebaikan.”

Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq Nya kepada kita semua …

Diselesaikan di Jakarta Selatan, 4 Maret 2015

Akhuukum Fillah, ~AiM

Sumber:

Al-Qur’anul Karim
Shohih Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *