Baik dengan Tetangga

 

Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Setiap muslim diperintahkan untuk bertakwa dan memiliki akhlak yang mulia. Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah, muamalah, serta hidup berkeluarga, sampai hidup bertetangga. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman

 

Siapa itu Tetangga?

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah AlFiqhiyyah, 16:216-217)

 

Salah satu ayat yang menyebutkan perintah berbuat baik pada tetangga adalah, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (QS. AnNisa’: 36)

 

Maksud ayat, kata Ibnu ‘Abbas, sembahlah Allah adalah tauhidkanlah Allah. Dalam ayat juga diperintah berbuat baik pada kedua orang tua. Selanjutnya diperintahkan berbuat baik pada karib-kerabat, anak yatim, dan orang miskin. Kemudian diperintah berbuat baik pada tetangga, mulai dari al-jaari dzil qurba. Siapa itu? Ada dua pendapat dalam hal ini. Ada yang menyatakan itu adalah tetangga yang punya hubungan kerabat. Hal ini menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas. Ada yang menyatakan bahwa al-jaari dzil qurba adalah tetangga muslim.  Sedangkan tetangga jenis kedua adalah tetangga yang tidak punya hubungan kerabat yaitu disebut al-jaarul junub. Ada juga ulama yang menyatakan bahwa yang dimaksud al-jaarul junub adalah tetangga Yahudi dan Nashrani.

Berarti kita diperintahkan terlebih dahulu berbuat baik pada tetangga yang masih punya kerabat, apalagi muslim. Juga diperintahkan untuk berbuat baik pada ash-shahib bil janbi. Siapakah itu? Ada ulama yang berpendapat, itu adalah istri. Ada juga yang menyatakan itu adalah teman saat safar. Begitu pula ada pendapat yang menyatakan, itu adalah teman secara umum.  Lalu dalam ayat disebutkan lagi bentuk berbuat baik pada ibnu sabil, yaitu musafir yang terputus perjalanan. Begitu pula diperintahkan berbuat baik pada budak yang dimiliki. Demikian penjelasan di atas disarikan dari Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Zaad Al-Masiir.

 

Bagaimana berbuat baik pada tetangga?

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, memuliakan tetangga bisa melakukan bisa dengan bentuk:

  1. Memulai mengucapkan salam pada tetangga.
  2. Menjenguk tetangga yang sakit.
  3. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah.
  4. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan.
  5. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat.
  6. Meminta maaf jika berbuat salah.
  7. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram.
  8. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi.
  9. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga.
  10. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui.

 

Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. (Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2:213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga).

 

Sudahkah kita berbuat baik pada tetangga kita?

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua untuk bisa berbuat baik pada orang-orang yang dekat dengan kita termasuk tetangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *