Buka Puasa, Satu diantara Dua Kebahagiaan

  • admin
  • Saturday 27 June 2015
  • Uncategorized
  • 0

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kebaikan dan  ke-berkahan.   Allah  Subhanahu wa ta’ala   memberkahi   hamba-hamba-Nya  di bulan ini dengan banyak keutamaan, dan di antara keutamaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala   berikan bagi hamba-Nya yang berpuasa adalah berbuka puasa.

Akan tetapi, di antara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian besar kaum Muslimin saat ini adalah menjadikan waktu berbuka puasa sebagai ajang balas dendam dengan menyantap makanan dan minuman sebanyak-banyaknya setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Sehingga kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendulang keutamaan yang banyak itu justru berubah menjadi penyesalan di kemudian hari. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seburuk-buruk umatku adalah yang dikenyangkan dengan kenikmatan; (yaitu)  orang-orang  yang memakan beraneka jenis makanan.” (Lihat Shahihul jami’, hadits no. 3705).

KEUTAMAAN BERBUKA PUASA

  1. Menyegerakan berbuka berarti mendatangkan kebaikan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan bahwa Abu Athiyah dan Masruq rahimahullah datang menemui Aisyah radiyallahu anha untuk meminta pendapat beliau, ia (Abu Athiyah) berkata (yang artinya), “Saya menemui Aisyah bersama dengan Masruq, maka kami berkata: “Wahai Ummul Mu’minin (bagaimana pendapat anda dengan) dua orang dari sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang salah satu dari mereka mempercepat  berbuka puasa dan mempercepat (waktu) shalat, sedang yang lainnya mengakhirkan berbuka puasa dan mengakhirkan shalat?” Maka ia (Aisyah) bertanya, “Siapa di antara keduanya yang  mempercepat  berbuka puasa dan mempercepat (waktu) shalat (Maghrib)?” Kami menjawab,” Abdullah yaitu Ibnu Mas’ud.” Maka ia berkata, “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Abu Daud).

  1. Berbuka puasa adalah salah satu dari dua kegembiraan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Seseorang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabbnya” (HR. Bukhari).

Seseorang yang berpuasa mendapatkan kegembiraan ketika berbuka, dikarenakan ia telah menyempurnakan puasanya dan telah menyelesaikan ibadahnya serta telah mendapatkan keringanan dari Tuhannya sebagai pertolongan baginya untuk berpuasa pada hari berikutnya. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 3:396).

  1. Menyegerakan berbuka berarti menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama ini akan senantisa jaya selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.” (HHR. Abu Daud).

WAKTU BERBUKA

Jika telah datang malam dari arah timur, menghilangkan siang dari arah barat dan matahari telah terbenam, berbukalah orang yang berpuasa, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, artinya:

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Dari Umar radiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini, dan matahari telah terbenam, maka berbukalah orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

ANJURAN  BERBUKA DENGAN KURMA

Disunnahkan untuk berbuka memulai dengan ruthab (kurma muda yang matang sebelum menjadi tamr), jika tidak ada maka dengan tamr (kurma matang), dan jika tidak ada maka dengan air. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radiyallahu anhu ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum melaksanakan shalat, jika tidak ada ruthab maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering) dan jika tidak ada tamr maka beliau minum seteguk  air.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Hadits di atas juga merupakan dalil tentang disunnahkannya berbuka puasa sebelum shalat Maghrib. Berkata Anas bin Malik radiyallahu anhu, “Saya tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat hingga beliau berbuka puasa walaupun hanya dengan seteguk air.” (HR. Ibnu Abdil Barr).

Imam Asy Syaukani dan lainnya berkata, ”Disyariatkannya berbuka puasa dengan kurma dikarenakan kurma mempunyai rasa yang manis, dan semua yang manis-manis dapat memperkuat penglihatan yang sempat melemah ketika berpuasa.” Kemudian beliau melanjutkan, “Dan apabila sebab disyariatkannya berbuka dengan kurma tersebut adalah rasa manis dan karena rasa manis  itu mempunyai pengaruh bagi badan, maka hal tersebut tentu juga terdapat pada semua jenis makanan yang manis-manis.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 3:311).

DOA BERBUKA PUASA

Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki waktu yang istijabah, yang mana apabila ia berdoa pada saat itu maka Allah akan mengabulkannya, yaitu ketika berbuka puasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak (yaitu) ketika berbuka.” (HR. Ibnu Majah, hadits hasan).

Adapun yang dibaca sebelum berbuka puasa adalah membaca basmalah yaitu “Bismillah”, hal ini berdasarkan beberapa dalil umum, di antaranya:

  1. Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebutlah nama Allah (ucapkan basmalah), makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang berada di dekatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan makanan maka ucapkanlah “Bismillah” (HR. At Tirmidzi).

  1. Pemberitahuan beliau bahwa setan ikut serta makan bersama manusia apabila tidak membaca basmalah.

Hal ini berdasarkan hadits dari Umayyah bin Makhsyiyyi, beliau berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dan seseorang sedang makan di sisinya namun ia tidak menyebut nama Allah, hingga tidak tersisa dari makannya kecuali sesuap dan ketika dia bermaksud untuk makan suapannya yang terakhir dia mengucapkan:

] بِسْمِ اللهِ  أَوَّلَهُ  وَآخِرَهُ [

 “Dengan nama Allah di permulaan dan di akhirnya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum kemudian bersabda, “Senantiasa setan makan bersamanya, lalu ketika ia menyebut nama Allah subhanahu wa  ta’ala, setan memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.” (HR. Abu Daud).

Adapun dzikir/doa buka puasa yang dituntunkan  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dibaca setelah makan dan minum (berbuka),

] ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَ ثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ [

“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat leher dan telah ditetapkan pahala insya Allah” (HR. Abu Daud, hadits hasan).

Dan masih terdapat beberapa doa berbuka puasa selain doa di atas namun semua riwayatnya tidak ada yang shahih, dan di antara riwayat yang lemah tersebut adalah,

] اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ [

“Ya Allah, hanya kepada-Mulah saya berpuasa dan atas rezki-Mulah saya berbuka puasa.” (HR. Abu Daud).

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata, “Sanad hadits ini dho’if (lemah).” (Lihat Tash-hih Ad Du’a hal. 507).

Syaikh Al Albani mengatakan, “Sanad hadits ini dhaif, karena di samping hadits ini mursal, terdapat pula di dalamnya seorang rawi yang majhul (tidak dikenal) yaitu Mu’adz (bin Zuhrah).” (Lihat Irwa’ Al Ghalil 4:38).

Adapun dzikir-dzikir khusus dan doa-doa yang dibaca secara berjama’ah dengan nada-nada tertentu menjelang waktu berbuka puasa maka ini tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam -Wallahu  A’lam.

MEMBERI MAKAN UNTUK BERBUKA PUASA

Orang yang memberi makan untuk berbuka puasa akan mendapatkan pahala yang besar dan kebaikan yang banyak, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam  bersabda,

“Barang siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dan bagi orang yang diundang untuk berbuka puasa hendaknya memenuhi undangan tersebut selama di dalamnya tidak terdapat kemungkaran yang bertentangan dengan syariat, karena hal itu merupakan hak seorang muslim atas muslim lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: ……(diantaranya) Memenuhi undangan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan disunnahkan bagi yang diundang untuk mendoakan kepada pengundangnya setelah selesai makan, dan di antara doa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,

] اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ وَأَسْقِ مَنْ  أَسْقَانِيْ [

“Ya Allah berilah makan orang yang memberiku makan dan berilah minum orang yang memberiku minum.” (HR. Muslim).

Atau membaca doa:

] أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَـيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ  [

“Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, makananmu telah dimakan oleh orang-orang yang bertaqwa dan para malaikat telah bershalawat kepada kalian.” (HR. Abu Daud dan Ahmad). Wallahu A’lam

-Abu Muh. Shofwan Shabar Siswoyo-

Maroji’:

Shifatu Shaumin Nabi r Fii Ramadhan, Syekh Ali Hasan & Syekh Salim Al Hilali

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *