Dari Air Susunya, Jasad Paling Suci Tumbuh Berkembang

  • akhwat
  • Monday 22 June 2015
  • Uncategorized
  • 0

Kali ini, ada janji dengan halim (kesantunan) dan sa’adah (kebahagiaan). Inilah cemerlang dari ibunda susuan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam; Halimah As-Sa’diyah. Ia adalah seorang ibu mulia yang dari air susunya nan diberkahi, jasad paling suci di seluruh dunia tumbuh berkembang; jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ibu yang teguh dan tenang ini sangat dihormati setiap muslim.

Mulia bagi setiap mukmin.

Dalam pangkuannya nan penuh kasih sayang, beliau berjalan.

Dari kefasihannya dan kefasihan kaumnya Bani Sa’ad, beliau belajar bahasa.1

 

MENCARI ANAK SUSUAN

Mari sama-sama kita menghayati salah satu kisah menawan penyususan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Halimah As-Sa’diyah adalah wanita Arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Halimah menceritakan tentang penyusuannya dengan penjelasan yang panjang lebar dan komprehensif. Ia mengatakan;

“Suatu ketika aku keluar bersama para wanita Bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. Waktu itu adalah tahun yang sangat sulit (paceklik). Kami menegendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetes pun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami selalu menangis karena rasa lapar. Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu mengharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekah. Setiap wanita yang diperlihatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ” Ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya? Oleh karena itu, kami tidak tertarik. Tidak ada dari wanita-wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. Ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara kepada suamiku, “Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan-kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya. Ia berkata, “Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu.” Aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.”

BERKAH YANG MELIMPAH

Berkah yang melimpah kepada Halimah dan suaminya setelah mengambil Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Suatu hari, Halimah dan suaminya merasakan lapar dan haus. Namun, dari mana mereka mendapatkan makanan karena susu unta betinanya tidak berisi. Seketika mereka berdua lupa akan keadaan dirinya. Keadaan telah berubah dalam sekejap. Keadaan ini diriwayatkan sendiri oleh Halimah. Ia berkata, “Suamiku bangkit menuju unta betina milik kami. Ternyata susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga kami puas dan kenyang, sehingga kami tertidur di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi suamiku berkata, “Demi Allah ketahuilah wahai Halimah! Engkau telah mengambil orang yang penuh dengan berkah.”

Aku mengatakan, “Demi Allah, itulah yang kuharapkan.”

Kemudian kami serombongan bepergian dengan menunggang keledai. Kubawa serta anak itu. Demi Allah, jarak itu kutempuh dengan tungganganku jauh lebih cepat daripada keledai-keledai orang lain sehingga kawan-kawanku berkata kepadaku, “Wahai anak serigala, sial engkau! temani kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat bepergian?”

Kukatakan kepada mereka, : Ya, demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu.” Mereka mengatakan, “Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu!”

Rombongan tiba di daerah pedalaman bani Sa’ad yang terlihat bekas-bekas kekeringan di tahun itu. Halimah telah melihat berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar kepadanya dari segala penjuru. Keberkahan meliputinya dalam segala hal. Kambing-kambingnya selalu keluar menuju ke tempat-tempat penggembalaan bersama kambing-kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing-kambing yang lain pulang dengan keadaan sebagaimana ketika pergi, sehingga kaumnya mencerca tukang gembala mereka. Demikianlah hari-hari Halimah hingga berjalan selama 2 tahun.

KEMBALI MENGASUH RASULULLAH

Setelah menyusuinya selam 2 tahun, Halimah harus membawanya kembali pulang ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah, di Mekah Al-Mukarramah. Halimah membawanya kepada sang ibu, sekalipun sangat ingin agar anak asuhnya tetap bersamanya karena melihat besaranya berkah pada diri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Aminah sangat berbahagia dengan anaknya yang mulia. Khususnya ketika melihatnya sedemikina suci dan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun, padahal belum lebih dari 2 tahun. Halimah berbicara sangat lembut kepada Aminah, mengharap agar mengizinkan anaknya kembali ke pedalaman lagi. Aminah mengizinkannya. Halimah kembali ke pedalaman dengan anak asuhnya. Demikianlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadi peristiwa “pembelahan dada”. Setelah kejadian ini, Halimah merasa takut sehingga mengembalikan kepada ibu kandungnya. Halimah kembali ke daerah pedalaman. Dia tinggal di sana beberapa tahun. Selanjutnya ketika Allah mengutus Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia, maka Halimah As-Sa’diyah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.

KEDUDUKAN HALIMAH DIMATA RASULULLAH

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kian kuat dan besar. Hari-hari berlalu dengan cepat. Rasulullah menikah dengan Khadijah. Setelah lama berlalu dari pernikahan penuh berkah ini, Halimah datang untuk mengadukan kekeringan di kampung halamannya. Tanaman dan hewan-hewan ternak mati. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian memberitahukan kepada isterinya, Khadijah. Lalu Khadijah memberinya 40 ekor kambing dan seekor unta untuk wanita itu. Setelah itu ia pulang.2

Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daripada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah.

TIBALAH SAAT BERPISAH

Setelah melalui kehidupan yang panjang, Halimah As-Sa’diyah akhirnya tidur di atas ranjang kematian. Ia meninggal dunia di Madinah Al-Munawwarah dan dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah sangat dikenal di sana.

Semoga Allah meridhaiNya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembalinya.

****************

  1. Shuwar min Siyarish Shahabiyat, hlm.7.
  2. Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad (I/113,114)
  3. Al-Haitsami menuturkan dalam Al-Majma’ (15413)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *