DOA ORANG TERDHALIMI

  • akhwat
  • Friday 25 September 2015
  • Uncategorized
  • 0

Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab. Suatu hari sekelompok penduduk Kuffah mengadukan suatu hal kepada Umar bin Khattab. Waktu itu gubernur Kufah dipimpin oleh sahabat Rasulullah yang mulia, Said bin Abi Waqash. Kelompok penduduk Kufah itu menceritakan kejelekan-kejelekan dengan tuduhan yang teramat keji. Bahkan, mereka mengatakan kepada Umar bin Khattab bahwa Sa’ad bin Abi Waqash tidak sempurna dalam melakukan shalatnya.

Umar akhirnya menerima pengaduan itu (meski tak begitu saja menerirnanya). Beliau lantas melepas Sa’ad bin Abi Waqash dari jabatannya sebagai Gubemur Kufah dan menggantinya dengan gubernur yang baru yaitu Ammar.

Namun, Umar bin Khattab bukanlah orang yang bodoh, ia terlalu cerdik untuk begitu saja menerima pengaduan penduduk Kuffah tersebut tanpa penyelidikan terhadap yang bersangkutan. Beliau lantas mernanggil Sa’ad bin Abi Waqash dan bertanya kepadanya, “Wahai Abu lshaq, sesungguhnya penduduk Kufah membenikan pengaduan kepadaku tentangmu. Mereka mengatakan bahwa shalatmu tidak sempurna.”

Khalifah Umar masih memanggil Sa’ad dengan sebutan Abu Ishaq, menandakan beliau masih sangat menghorrnati keberadaan sahabat Rasulullah, Sa’ad bin Abi Waqash.

Akhirnya Sa’ad bin Abi Waqash memberi penjelasan kepada Umar bin Khathab bahwa selama ini ia mengimami shalat penduduk Kuffah dengan tata cara shalat seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Setelah mendengar penjelasan Sa’ad, Umar bin Khattab pun lantas mengutus seseorang untuk pergi ke Kuffah guna menyelidiki bagaimana sesungguhnya sikap penduduk Kuffah kepada Sa’ad bin Abi Waqash.

Sesampainya di Kuffah, utusan Umar tersebut mendatangi setiap masjid yang ada di sana untuk menanyakan keadaan Sa’ad bin Abi Waqash menurut pandangan mereka. Temyata sebagian besar penduduk Kuffah hanya menyebut dan memuji kebaikan-kebaikan Sa’ad saja.

Hingga sampailah utusan tersebut di masjid Bani ‘Abs. Utusan tersebut melihat di dalam masjid dan kebetulan di sana ada seorang lelaki. Maka
utusan tersebut bertanya kepada lelaki tersebut perihal Sa’ad bin Abi
Waqash. Laki-laki itu berdiri dan berkata, “Jika anda bertanya kepada kami tentang Sa’ad bin Abi Waqash, maka akan kami jawab bahwa Sa’ad bin Abi Waqash adalah pernimpin yang tidak pemah memimpin pasukan di dalam peperangan. Dia juga selalu membagi-bagikan harta rampasan perang dengan tidak adil. Begitu juga, dia tidak pernah berbuat adil di dalam masalah yang
berkaitan dengan hukum suatu perkara.

Ternyata, lelaki yang ditanya utusan Umar tersebut bernama Usamah bin Qatadah, juga biasa dipanggil Abu Sa’dah.

Kabar yang disampaikan oleh lelaki itu akhirnya sampai juga ke telinga Sa’ad bin Abi Waqash. Mendengar tuduhan yang diarahkan kepadanya itu, Sa’ad lantas berkata, “Demi Allah, Demi Allah! Sesungguhnya saya akan berdoa dengan tiga perkara. Ya Allah, jika hamba-Mu ini (Usamah bin Qatadah) berdusta karena riya’ dan sum’ah (pamer dan suka didengar) maka
panjangkanlah umumya, lanjutkanlah kemiskinannya serta timpakan cobaan kepadanya selalu.”

Maka tak selang berapa lama, Allah mengabulkan doa Sa’ad bin Abi Waqash. Abu Sa’dah hidup hingga mencapai usia yang sangat renta. Selain itu Ia selalu hidup dalam kemiskinan dan hidupnya selalu diterpa berbagai cobaan yang seakan tiada pernah henti.

Begitulah, setiap kali Abu Sa’dah ditanya orang tentang keadaan dirinya, Ia selalu menjawab, “Saya hidup hingga tua renta seperti ini dan ditimpa oleh banyak sekali cobaan tak lain akibat doa Sa’ad.”

Demikianlah, keadaan orang-orang dhalim, yang menderita karena doa orang yang didhalimi. Maka sepatutnyalah kita berhati-hati, jangan sampai kita berbuat dhalim kepada sesama.

lngatlah selalu akan wejangan Rasulullah lewat sabdanya, “Takutlah kamu kepada doa orang yang terdhalimi…” (HR. Bukhari Muslim)
Ummu Farros

 

Sumber: Elfata  edisi 06 volume 08 tahun 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *