DO’A YANG DIBACA DI 10 MALAM TERAKHIR RAMADHAN

  • akhwat
  • Sunday 26 June 2016
  • Manhaj
  • 0

Malam Lailatul Qadr adalah malam yang agung dan mulia. Hal ini diterangkan dalam firman Allah subhanahu wa Ta’ala dalam [QS. Al-Qadr: 1-5].

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Pada malam Lailatul Qadr terdapat do’a yang dianjurkan untuk kita agar banyak membacanya. Do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a: ”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).”

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dijelaskan pula oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan? ”Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” [HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850].

Para ulama menyimpulkan dari hadits di atas tentang anjuran memperbanyak do’a “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat Lailatul Qadr. Do’a tersebut mengandung ketundukan hamba pada Allah subhanahu wa Ta’ala dan pernyataan bahwa dia tidak luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja. Al-Baihaqi rahimahullah berkata: “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan:

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam Lailatul Qadr setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (shalih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata:

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363).

Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdo’a pada Allah subhanahu wa Ta’ala diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah subhanahu wa Ta’ala. Seperti dalam do’a terlebih dahulu memuji Allah subhanahu wa Ta’ala dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Ya Allah yang Maha Pemberi Maaf. Bentuk do’a semacam ini adalah bertawassul (mendekatkan diri) terlebih dahulu dengan nama atau sifat  Allah subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan isi do’a.

Dalil diatas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah di antara sifat Allah subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini yang dimaksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat hamba. Begitu pula hadits tersebut menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah subhanahu wa Ta’ala. Penetapa sifat disini adalah sesuai dengan keagungan Allah subhanahu wa Ta’ala, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. Wallahu a’lam.

Semoga Allah subhanahu wa Ta’ala memberi taufik dan hidayah kepada kita umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbanyak membaca do’a diatas yang telah dijelaskan, ketika di penghujung Ramadhan.

 

Wallahu’alam.
Sumber: https://rumaysho.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *