Hadiah Pemuda Shalih untuk Rasulullah ﷺ

  • akhwat
  • Friday 2 December 2016
  • Manhaj
  • 0

Segala puji bagi Allah dengan segala sifat terpuji-Nya, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung diri kepada Allah dari jahatnya hawa nafsu kami dan dari buruknya amal kami.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan atas sayyidul awwalin wal akhirin, yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad. Semoga terlimpah pula kepada Keluarga, sahabatnya, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Baik dalam hal aqidah, manhaj, akhlak, dan muamalahnya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sangat bergembira tatkala Mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Seseorang akan dibersamakan dengan orang yang dicintainya.”
Beliau mengemukakan alasan kegembiraannya dengan ungkapan, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap bisa bersama mereka dengan modal kecintaanku atas mereka, meski belum mampu beramal seperti yang telah diamalkan.”

Kali ini kita akan berkisah tentang sahabat Rasulullah shallahllahu ‘alaihi wa sallam , yaitu Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Hari itu adalah hari yang tidak terlupakan Anas bin Malik senantiasa mengingatnya sampai dia berumur seratus tahun lebih.Tidak lama setelah Rasulullah tinggal di Madinah, Al-Gumaisha’ binti Milhan, datang kepada beliau disertai Anas bin Malik yang saat itu masih kanak-kanak. Al-Gumaisha’ mengucapkan salam dan berkata “Ya Rasulullah, semua laki-laki dan wanita anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apapun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai dengan apa yang Engkau inginkan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbahagia, beliau memandang Anas dengan wajah berseri-seri, beliau mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia, menyentuh ujung rambutnya dengan jari-jemari beliau yang lembut dan beliau menganggapnya sebagai keluarga. Anas bin Malik mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah didapatkan oleh Seorang anak dari bapaknya. Mengenyam keluhuran perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keagungan sifat-sifatnya yang membuat dunia patut untuk iri kepadanya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling berlapang dada dan paling besar kasih-sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa saat setelah berada ditengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berada dibelakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah dengan tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah, aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat Rasulullah.”  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah beliau yang memenuhi hati dan jiwanya. Diantara nasihat-nasihat itu adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya:
“Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunnah, Barangsiapa menghidupkan sunnah maka dia mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka berarti dia bersamaku di surga “Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat selama delapan puluh tahun lebih, selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fiqih kenabian. Selama itu Anas radhiallahu ‘anhu menghidupkan hati umat dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dia sebarkan diantara para sahabat dan tabi’in, dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berharga dan perbuatan-perbuatan beliau yang mulia yang dia tebarkan diantara manusia.

Demikian pembahasan materi tentang Shirah (kisah) mulia dari sosok Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, begitu banyak pelajaran dan ilmu yang dapat kita jadikan tauladan atas apa yang ada pada dirinya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran didalamnya, Aamiin.

Wallahua’lam.

*********
Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya
Muraja’ah : Akhwat Diklat Kamupi PNUP
Buku: Mereka adalah Para Shahabat 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *