HARI GINI MASIH PAKAI PELAMPUNG?

  • admin
  • Sunday 31 May 2015
  • Uncategorized
  • 0

foto_mencontek_konyol-20150413-011-rita

Kadang kita melihat orang menggunakan pelampung di laut, sungai atau danau yang cukup dalam dengan alasan tidak bisa berenag. Namun ada pemandangan yang unik ketika kita mendapati sesorang mengunakan “pelampung” di daratan, bahkan bukan saja pelampung tetapi mengunakan “kapal Pesiar”.

Sebagaimana tradisi dalam dunia pendidikan, UAS (Ujian Akhir Semester) menjadi salah satu indikator dalam menentukan nilai mahasiswa. UAS juga menjadi momen tersendiri bagi beberapa mahasiswa  untuk rela belajar semalam suntuk, khususnya yang menganut paham SKS (Sistem Kebut Semalam).

Berbicara tentang UAS, mahasiswa memiliki teknik-teknik tertentu dalam mengejar nilai yang tinggi, contohnya adalah pelampung (baca: contekan). Pelampung ada dua macam; Pelampung Konvensional dan Pelampung Modern.

Pelampung Konvensional biasanya memanfaatkan secarik kertas, corat-coret di meja, atau bahkan di dinding. Kreativitas tingkat tinggi yang tidak pada tempatnya.

Khusus yang secarik kertas. cara memberikannya ke teman cukup variatif. Dimulai dari gaya melempar ala Tolak Peluru, gaya menggelinding ala Bowling, atau terkadang menggunakan kode-kode rahasia. Mungkin mereka bisa menjadi atlet dan mata-mata yang hebat dimasa yang akan datang(?).

Adapun Pelampung Modern memanfaatkan berbagai kecanggihan teknologi, seperti saling mengirim jawaban lewat media social seperti BBM atau WA, atau fitur yang ada di handphone seperti Bluetooth dan foto. Dan inilah yang kadang di istilahkan dengan kapal pesiar atau kapal selam karena dapat memuat dengan kapasitas yang besar

 

Bagaiman Hukum “Pelampung” dalam pandangan Islam ?

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim No.101)

Sekarang jawablah dengan hati kecil kita, apakah menyontek itu menunjukkan kejujuran atau penipuan? Jika hati kita menjawab “Itu penipuan”, maka alhamdulillah itu indikasi hati yang sehat. Jika anda merasa tidak risih sama sekali, berarti hati anda sedang sakit.

Hati yang sehat ketika melakukan kesalahan, ia tidak akan merasa tenang hingga bertobat dan tidak mengulanginya lagi. Rasulullah sudah mengingatkan, “ … dan dosa adalah apa saja yang menyempitkan dadamu, dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya.”(HR. Muslim)

 

“Lalu, kalau bantu teman yang kesulitan waktu ujian gimana? Kan sekelas harus solid?” Jawabannya, Allah berfirman:

“…dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan keburukan..” (QS.Al-Maidah : 2)

Siapakah yang salah jika kita tidak bisa menjawab materi yang diujikan? Jawabannya tentu kita sendiri. Setahu kami, dosen tidak memberikan soal yang tidak pernah dipelajari oleh mahasiswanya. Jika soalnya sulit, dosen akan memberikan kemudahan dengan ujian Open Book. Iya, kan?

Allah tidak akan menurunkan musibah seperti tidak dapat menjawab soal ujian hingga keringat bercucuran dan menghasilkan nilai yang buruk jika bukan karena kita yang melakukan kesalahan, yakni malas belajar.

Allah berfirman “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. Asy-Syu’ara : 30)

Allah Subhanahu Wa Ta’laa, ketika menguji keimanan hambanya, sesuai dengan kadarnya. Adapun untuk mahasiswa diantanta berlaku adil dalam ujian. Dan itulah ujian keimanan baginya.  Jika kita betul-betul tidak mengetahuinya, maka tak perlu menoleh kesana kemari sembari berharap wahyu (baca: jawaban) datang. Disinilah keimanan kita sebagai muslim yang berstatus mahasiswa diuji, apakah kita betul-betul bisa konsisten untuk jujur atau tidak.

Allah berfirman :

“…Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?..”(QS. Al Ankabut : 2)

Konsisten untuk tidak menyontek adalah hal yang sangat luar biasa. Sepele? Sama sekali tidak! Bukankah hal yang besar dimulai dari hal yang kecil, sebagaimana bukit yang menjulang ke langit tersusun dari bebatuan kecil?

Ibnu Mubarak ditanya bagaimana seseorang bisa menjadi mulia, beliau rahimahullah menjawab, “Yaitu dengan istiqomah (konsisten).” (Hilyatul Auliya’, 3: 40). Begitu pula konsisten untuk jujur ketika ujian adalah bentuk konsisten dalam kebaikan. Berusahalah sebaik mungkin untuk mendapatkan nilai terbaik, tapi dengan cara yang baik pula.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Isinya sebagai berikut,

“Barangsiapa mencari ridho Allah sedangkan manusia murka ketika itu, maka Allah akan bereskan urusannya dengan manusia yang murka tersebut. Akan tetapi barangsiapa mencari ridho manusia, namun membuat Allah murka, maka Dia akan serahkan orang tersebut kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Wahai saudaraku, berusahalah jujur dalam ujian. Berusahalah, kemudian berdoa dan berharaplah kepada Allah semoga mendapatkan nilai yang baik. Lebih baik C tapi terhormat daripada A tetapi bukan nilai yang nyata. Semoga Allah memberikan hidaya-Nya kepada kita semua dalam mengikuti ujian. Dan terkhusus lagi pada para mahasiswa. Wallahu A’lam.

~AiM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *