Hati Kuat Andapun Selamat

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,ama ba’du,

Perjumpaan
dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang pasti terjadi

Ingatlah saudaraku! Perjumpaan dengan
Allah Ta’ala adalah suatu yang benar
adanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan
hal ini dalam sabdanya,

لِقَاؤُكَ حَقٌّ

“Perjumpaan dengan-Mu adalah sebuah kebenaran”. [HR.
Muslim].

Hendaknya keyakinan ini terpatri dalam
hati seorang hamba Allah, bahwa ia pasti akan menghadap Rabbnya dan berjumpa
dengan-Nya untuk dihisab amalnya serta mempertanggungjawabkan perbuatannya
sewaktu di dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

{وَلِلَّهِ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا
وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى}

(31) Dan hanya kepunyaan Allah-lah
apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan
dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang
lebih baik (Surga).[An-Najm:31].

Sobat, menghadirkan keyakinan ini dengan
sempurna pada diri seorang kita, akan melahirkan sikap berusaha senantiasa
mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut hari perjumpaan
tersebut.

Karena seorang muslim yang baik dan yakin
akan berjumpa dengan Rabbnya, iapun yakin akan dihisab serta dibalas amalnya,
tentulah berusaha mencari bekal untuk bisa menghadap kepada Allah dengan
selamat.

Pangkat, jabatan, kekuasaan, harta benda
dan keturunan, tidak bermanfaat sedikitpun, jika seseorang tidak membawa hati
yang sehat, sebuah hati yang berisi keimanan yang benar sehingga membuahkan
amal sholeh yang diterima oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

{يَوْمَ
لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

“Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki
tidak berguna”,

{إِلَّا مَنْ أَتَى
اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“kecuali orang-orang yang menghadap
Allah dengan hati yang sehat”. [QS. Asy-Syu’araa`:88-89].

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan
dua ayat di atas di dalam kitab tafsir beliau:

“Firman
Allah :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ
مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

“ Pada hari dimana harta dan
anak-anak laki-laki tidak berguna”,

maksudnya : harta seseorang tidaklah bisa
melindunginya dari adzab Allah, walaupun ditebus dengan sepenuh bumi emas.

{وَلَا بَنُونَ}

“dan anak-anak laki-laki ”,

maksudnya: meskipun ditebus dengan semua
anak-anak laki-laki yang ada di muka bumi.

Pada hari itu, tidaklah bermanfaat kecuali
keimanan kepada Allah, memurnikan ketaatan untuk-Nya semata (ikhlas) dan
berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Oleh karena itu, Allah berfirman:

{إِلَّا مَنْ أَتَى
اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“kecuali orang-orang yang menghadap
Allah dengan hati yang sehat”,

maksudnya: selamat dari kotoran (dosa) dan kesyirikan”1.

Tabi’in yang mulia, Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah menafsirkan qolbun
salim dengan perkataan beliau:

القلب السليم : هو القلب
الصحيح ، وهو قلب المؤمن; لأن قلب [ الكافر و ] المنافق مريض ، قال الله : { في قلوبهم
مرض } [ البقرة : 10 ]

“Qolbun salim adalah hati yang sehat. Hati tersebut
adalah hati seorang mukmin, karena hati [orang kafir dan] orang munafik adalah
hati yang sakit, Allah Ta’ala berfirman:

{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ
فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا}

(10) Dalam hati mereka ada
penyakit. [QS. Al-Baqarah:10]” 2.

Hati
yang sehat adalah hati yang kuat!

Dari uraian sebelumnya, ketika Anda tahu bahwa orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehatlah yang bisa selamat berjumpa dengan Rabb mereka, maka muncul sebuah pertanyaan : “Bagaimana
hati yang sehat itu?”.

Jawabannya: “Hati yang sehat adalah hati yang memiliki kekuatan hati yang baik!”.

Lantas, “Apakah yang dimaksud dengan kekuatan hati itu?”.

Simaklah uraian sang dokter hati, Imam
Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang indah: Ighatsatul
Lahfan berikut ini:

الباب
الخامس:  فى أن حياة القلب وصحته لا تحصل إلا بأن يكون مدركا للحق مريدا
له، مؤثرا له على غيره

“Bab yang kelima: Tentang kehidupan hati dan kesehatannya tidak akan diperoleh kecuali dengan mengenal kebenaran lagi menginginkannya serta memilihnya, mengalahkan selainnya”.

لما كان فى القلب قوتان: قوة العلم
والتمييز، وقوة الإرادة والحب. كان كماله وصلاحه باستعمال هاتين القوتين فيما
ينفعه، ويعود عليه بصلاحه وسعادته.

Tatkala dalam hati terdapat dua
kekuatan hati, yaitu:

  • Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz].
  • Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal
    Hubb],

maka kesempurnaan dan kebaikan hati itu diperoleh dengan menggunakan dua kekuatan ini dalam perkara yang bermanfaat bagi hati dan dalam perkara yang kebaikan dan kebahagiaan hati tersebut kembali kepadanya”.

Cara
menggunakan kekuatan hati dan merawatnya

Kemudian sang dokter hati pun menjelaskan
lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan dua kekuatan hati itu dengan benar,
sehingga terjaga dengan baik?

Inilah penjelasan beliau tentang cara
menggunakan kekuatan hati pertama, yaitu: Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz],

فكماله باستعمال قوة
العلم فى إدراك الحق، ومعرفته، والتمييز بينه وبين الباطل

Kesempurnaan hati diperoleh dengan
menggunakan kekuatan ilmu untuk menemukan dan mengenal kebenaran (dengan baik)
serta membedakan antara kebenaran dengan kebatilan (dengan baik).

Adapun tentang cara menggunakan kekuatan
hati kedua:

Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul
Iradah wal Hubb],

وباستعمال قوة الإرادة
والمحبة فى طلب الحق ومحبته وإيثاره على الباطل

(Kesempurnaan hati diperoleh) dengan menggunakan
kekuatan kehendak dan cinta dalam mencari kebenaran dan mencintainya serta
memilihnya, mengalahkan selainnya.

Akibat
buruk jika salah dalam  menggunakan kekuatan hati

Lalu beliaupun menjelaskan akibat buruk
orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar serta menjelaskan
pula akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan
hatinya dengan benar,

فمن لم يعرف الحق فهو
ضال، ومن عرفه وآثر غيره عليه فهو مغضوب عليه. ومن عرفه واتبعه فهو مُنْعَمٌ عليه

  • Maka barangsiapa yang tidak mengenal kebenaran3, berarti dia telah sesat,
  • barangsiapa yang tahu kebenaran, namun memilih
    kebatilan, maka dia menjadi orang yang dimurkai (oleh Allah),
  • dan barangsiapa yang mengenal kebenaran dan
    mengikutinya, maka dia lah orang yang diberi nikmat (oleh Allah).

Perbedaan
antara umat Islam, yahudi dan nashara dalam menggunakan kekuatan hati

Setelah dijelaskan bahwa akibat buruk itu
bagi orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar,

dan sebaliknya, akibat baik bagi orang
yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, maka
pantaslah jika Allah memerintahkan kita ketika sholat, untuk senantiasa memohon
petunjuk:

  1. Agar menjadi orang-orang yang mendapatkan
    nikmat-Nya, berupa: ilmu tentang agama-Nya dan amal shaleh. Mereka inilah
    yang  menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, yaitu: kekuatan ilmu
    dan kekuatan kehendak yang membuahkan amal sholeh.
  2. Serta memohon agar dihindarkan dari jalan
    orang-orang yang dimurkai oleh Allah, karena tidak mengamalkan kebenaran
    yang telah diketahui oleh mereka (al-maghdhub ‘alaihim), seperti
    kaum yahudi yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan
    kehendak dan cinta.
  3. Serta dihindarkan dari jalan orang-orang yang
    sesat, karena tidak berilmu tentang kebenaran (adh-dhaalluun),
    seperti nashara yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan
    ilmu mereka.

Oleh karena itulah, Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah berkata:

من فسد من عبادنا ففيه
شبه من النصارى، ومن فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود؛ لأن النصارى عبدوا بغير
علم، واليهود عرفوا الحق وعدلوا عنه.

Barangsiapa yang rusak diantara ahli
ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan nashara, Barangsiapa
yang rusak diantara ulama kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan
yahudi, karena nashara beribadah tanpa ilmu dan yahudi mengetahui kebenaran,
namun berpaling darinya.

Hati
kuat, Andapun selamat!

Allah Ta’ala mengkabarkan
kepada kita tentang hamba-hamba-Nya yang selamat dari kerugian, dalam salah
satu surat Alquran yang singkat namun padat makna.

Hamba-hamba-Nya yang selamat di dalam
surat itu adalah profile orang-orang yang memiliki dua kekuatan hati dan mampu
menggunakan keduanya dengan benar!

Mereka adalah tipe orang-orang yang
mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, sehingga sempurna dirinya dengan ilmu
agama Islam dan amal shaleh.

Tidak cukup itu, mereka juga berusaha
menyempurnakan orang lain dengan mengajak dan mendakwahi mereka untuk berilmu,
beramal dan bersabar di atas jalan ilmu, amal dan dakwah.

Sobat, mari kita renungkan surat Al-‘Ashr berikut
ini,

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

{وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ
الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa -yang itu
merupakan waktu untuk beramal, baik amal yang menguntungkan maupun amal yang
merugikan- bahwa setiap orang dalam keadaan merugi kecuali :

  1. Orang yang menyempurnakan kekuatan ilmiahnya
    dengan beriman kepada Allah dan kekuatan amaliahnya dengan melakukan
    ketaatan kepada-Nya. Maka ini kesempurnaan dirinya sendiri.
  2. Kemudian menyempurnakan orang lain dengan nasehat
    dan perintahnya kepadanya agar orang lain tersebut sempurna kekuatan
    ilmiah dan amaliahnya (seperti dirinya,pent.).
  3. (Dan nasehatnya) berupa pilar utama itu semua,
    yaitu: kesabaran.

Jadi, ia menyempurnakan dirinya sendiri
dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh dan menyempurnakan orang lain
dengan mengajarkan (kedua) hal itu kepadanya.

Serta nasehatnya kepada orang lain tersebut agar bersabar di atas jalan itu”.

Ucapan
emas bagi orang yang menyayangi hatinya

Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur:

“Hendaknya (seorang hamba) ketahui bahwa kedua kekuatan (hati) ini, tidak pernah berhenti beraktifitas, bahkan (kemungkinan yang ada) yaitu:

  • Jika tidak ia gunakan kekuatan ilmiahnya untuk
    mengenal kebenaran dan mencarinya, maka ia akan gunakan kekuatan tersebut
    untuk mengetahui sesuatu yang selaras dan cocok dengan kebatilan.
  • Begitu pula, jika tidak ia gunakan kekuatan
    kehendak amalnya untuk beramal shaleh, maka ia akan gunakan untuk sesuatu
    yang bertentangan dengan amal shaleh.

Jadi, (Kesimpulannya) bahwa manusia itu, secara tabiat, disifati dengan “Harits” dan “Hammam”, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ta’ala ‘alaihi wa alihi wa sallam,

“أَصْدَقُ الأَسْمَاءِ: حَارِثٌ وَهَمَّامٌ”.

“Nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam” 4.

Harits adalah orang yang (suka)
beraktifitas.

Sedangkan Hammam adalah orang yang banyak berkeinginan/selera (“ham”)5.

Karena, sesungguhnya jiwa itu sifatnya
dinamis dan gerakan kehendak jiwa itu (hakekatnya) adalah bagian dari
konsekwensi dzatnya6.

Sedangkan kehendak itu mengharuskan bahwa
sesuatu yang dikehendaki akan tergambar pada jiwanya dan memiliki keistimewaan
tersendiri menurut jiwanya.

Jadi, jika jiwa (manusia) tidak menggambarkan
kebenaran, mencarinya dan menghendakinya,maka akan menggambarkan kebatilan, mencarinya dan menghendakinya. Dan itu pasti!”

***

Disusun dari : Ighatsatul Lahfan
min Mashaidisy Syaithan,Ibnul Qoyyim, bab kelima

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *