Ibu yang Mengharapkan Pahala atas Kematian Empat Anaknya dalam Perang Qadasiyah

  • akhwat
  • Monday 29 June 2015
  • Uncategorized
  • 0

Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, “di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia.”

Dialah al-Khansa1. Seorang sahabat wanita mulia dan pujangga ternama. Ia sosok yang cerdik dan berakal. Siapapun mengenal kedudukan dan kepiawaiannya di bidang sya’ir. Hingga para pujangga sepakat, tidak ada seorang wanita pun yang lebih pandai bersyair melebihi khansa’, baik sebelum maupun setelahnya.

Kesedihan Atas Kematian Saudaranya

Di zaman jahiliyah, tatkala saudara kandungnya yang bernama Mu’awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh, ia terus menerus meratapi kematiannya dalam beberapa bait syair.
Lalu menyusullah saudara seayahnya yang terbunuh pula, yang bernama Shakhr.
Konon al-Khansa amat mencintai saudaranya yang satu ini, karena ia amat penyabar, penyantun, dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kematiannya menyebabkannya sangat terpukul, lalu muncullah bakat bersyairnya yang selama ini terpendam. Dan mulailah ia melantunkan bait demi bait meratapi kematian saudaranya. Semenjak itulah ia mulai banyak bersyair dan syairnya semakin indah.

Mentari Islam Terbit di Hatinya
Allah berkehendak awan iman berhenti diatas kepala Khansa, lalu menurunkan hujan ke dalam hatinya, hingga iman menyentuh relung hati dan kehidupan hakiki merayap ke dalamnya. Ia pun mengibaskan debu-debu jahiliyah dan membawa panji tauhid untuk memberikan pelajaran kepada seluruh dunia yang takkan pernah dilupakan sejarah sepanjang masa.

Bersama kaum dari Bani Sulaiman, Khansa datang lalu masuk islam bersama-sama. Ia sedih karena ketinggalan banyak sekali kebaikan, menyesali usia yang telah berlalu jauh dari cahaya Islam. Namun ia bertekad, untuk mengorbankan apa yang ia punya demi membela agama agung ini.

Sabar dan Mengharap Pahala dalam Perang Qadisiyah
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah2. Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya, ia mengatakan;

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haq selain Dia. kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan paman kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian. Dan kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana.

Allah berfirman,

   “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Qs. Ali Imran: 200)

Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah , maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi. Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.”

Kala pagi tiba, mereka berperang dengan hati nan kuat dan fanatisme mulia. Kala ada diantara mereka lemah, yang lain mengingatkan wasiat ibunya tercinta. Mereka pun meraung bak singa, melaju bak anak panah, bangkit bak petir, dan turun laksana perintah Allah terhadap para musuh-musuh-Nya. Mereka tetap seperti itu hingga mereka gugur satu per satu.

Kala berita kematian empat ksatria ini dalam jangka satu hari, Khansa sama sekali tidak menampari pipi ataupun merobek kerah baju. Ia menerima berita ini dengan penuh keimanan orang-orang sabar dan kesabaran orang-orang beriman. Ia mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada Rabbku agar mempertemukanku dengan mereka di tempat rahmat-Nya berada.”

Kaum muslimin, kita bisa mengajukan pertanyaan berikut pada diri kita sendiri; apa gerangan yang merubah khansa hingga seperti ini? Apalagi kalau bukan iman yang diletakkan Nabi di hati orang-orang mukmin, hingga mengalihkan mereka dari kebodohan menuju idealisme nan tinggi, nilai-nilai luhur, akhlak-akhlak mulia, dan kerinduan akan ridha Allah.3

Ke Hariban Ilahi

Setiap permulaan pasti ada akhirnya. Namun alangkah indahnya jika kisah seseorang diakhiri dengan kematian yang berpegang pada tauhid dan iman.

Khansa tidur diatas ranjang kematian setelah mempersembahkan empat anak-anaknya untuk Allah dengan rela hati dan mengharap pahala agar menjadi salah satu penghuni surga. Sebab Rasulullah pernah menyampaikan, “Siapa mengharap pahala (atas kematian) tiga anaknya, ia masuk surga. ‘Seorang wanita bertanya, ‘(Yang mengharap pahala atas kematian) dua (anaknya) bagaimana?’ ‘(Yang mengharap pahala atas kematian) dua (anaknya juga masuk surga’.4  

Seperti itulah Khansa yang dibentuk Islam secara agung dan menjadi ibu teladan lagi penyabar, mujahidah, dan mengharap pahala atas kematian anaknya yang lebih dahulu pergi meninggalkan dunia.

Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga firdaus sebagai tempat kembalinya.

*****

  1. Al Khansa adalah julukan seorang wanita yang bernama Tumazhir binti ‘Amru bin Sulami.  Lafazh al-Khansa’ (muannats) diambil dari kata kha-na-sa (al-Khanas), artinya hidung yang pipih, dan agak menungging ke atas. Jadi,al-Khansa’adalah julukan bagi wanita yang hidungnya seperti itu. [lihat: Wafayatul A’yan 6/34]
  2. Nama sebuah daerah yang terletak sekitar 45 Mil dari Kufah, Iraq. Di daerah inilah terjadi pertempuran hebat antara kaum muslimin melawan tentara Persia, di zaman kekhalifahan Umar bin Khatthab pada tahun 16 H. Kaum muslimin ketika itu di bawah komando Sa’ad Abi Waqqash, sedang pihak Persia dipimpin oleh Rustum. Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan runtuhnya imperium Persia. [lihat: Mu’jamul Buldan, 3/353, dan dari berbagai sumber]
  3. Silahkan baca bait-bait ini di Al-Isti’ab, biografi nomor 3363.
  4. HR An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Anas. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (5969).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *