Kisah Inspiratif oleh Abu Hanifah

  • akhwat
  • Tuesday 19 July 2016
  • Adab
  • 0

Sosok pertama yang akan kita kupas dan jadikan inspirasi adalah Abu Hanifah. Beliau memiliki nama lengkap Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit bin An-Nu’man bin Al-Marziban, dilahirkan di Kuffah tahun 80 H. Di Kufah, Iraq, ini pula ia tumbuh dan dibesarkan, serta menghabiskan sebagian besar kehidupannya. Terkabarkan bahwa, kota Kufah saat itu merupakan kota besar, penuh dengan para Ulama dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Abu Hanifah diusianya yang masih kecil sering mendampingi ayahnya berdagang kain sutra, akan tetapi tidak seperti layaknya para pedagang lainnya, ada sesuatu yang berbeda dari diri Abu Hanifah, yaitu kebiasaan pergi ke Mesjid Kufah. Karena kecerdasannya yang gemilang, ia mampu menghafal Al-Qur’an serta ratusan bahkan ribuan hadist, yang saat itu merupakan ciri khas orang-orang beragama.

Di masa Abu Hanifah menuntut ilmu, Iraq (termasuk didalamnya kota Kufah), disibukkan oleh tiga macam halaqah keilmuan.

Pertama, halaqah yang membahas pokok-pokok akidah.

Kedua halaqah yang membahas tentang hadits Rasulullah, metode dan proses pengumpulannya dari berbagai Negara, serta pembahasan tentang para perawi dan kemungkinan diterima atau tidaknya pribadi dan riwayat mereka.

Ketiga, halaqah yang membahas masalah fikih dari Al-Qur’an dan sunnah, termasuk membahas fatwa untuk menjawab masalah-masalah baru yang muncul saaat itu, yang belum pernah muncul sebelumnya.

Abu Hanifah berinteraksi dengan beragam disiplin ilmu seperti ini dengan menggunakan kecerdasannya yang sangat gemilang, pemikiran yang luas, serta akal yang sangat tercerahkan. Ia melibatkan diri dalam dialog tentang ilmu kalam, tauhid, dan metafisika. Menghadiri kajian hadits dan periwayatanya, sehingga ia mempunyai andil yang besar dalam bidang ini.

Beliau mulai mempelajari beragam persoalan fiqih dengan cara berguru kepada salah satu Syaikh ternama di kota Kufah (kota Kufah saat itu menjadi tempat domisili bagi ulama fiqih Iraq). Di Kufah beliau belajar fiqih kepada syaikh yang ternama, yaitu Syaikh Hammad bin Abi Sulaiman   Abu Hanifah  begitu bersemangat dalam menghadiri dan menyertai gurunya. Ia terkenal sebagai murid yang banyak bertanya dan berdebat, serta senantiasa bersikeras dalam mempertahankan  pendapatnya. Selama 18 tahun penuh, Abu Hanifah menimba ilmu dari gurunya Syaikh Hammad bin Abi Sulaiman. Saai itu, ia berusia 22 tahun. Sampai akhirnya, kabar buruk datang gurunya Syaikh Hammad wafat dan ia menjadi salah satu ahli warisnya. Ketika   ia memutuskan untuk pergi ke Bashrah ia meminta Abu Hanifah untuk menggantikan posisinya sebagai pengajar, dan pemberi fatwa.

Abu Hanifah tidak hanya menimba ilmu dari gurunya Syaikh Hammad, tetapi juga mengambil ilmu dari banyak ulama selama dalam perjalanannya ke Bitullah Al-Haram, Mekah, dan Madinah. Di antara ulama-ulama tersebut adalah Imam Malik bin Anas, Zaid bin Ali bin Zainal Abidin, dan Ja’far Ash Shadiq, dan beberapa ulama lainnya yang mempunyai pengetahuan banyak terhadap masalah fiqih dan hadits.

Banyak pujian yang dari para ulama terhadap dirinya, diantaranya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i. Suatu hari dikatakan kepada Imam Malik, “Apakah Anda telah bertemu dengan Abu Hanifah ?” Imam Malik menjawab “Sudah, subhanallah aku belum melihat sosok seperti dia.” Demi Allah, jika Abu Hanifah berpendapat bahwa sebuah alat terbuat dari emas, maka pasti dia sanggup mengetahkan kebenaran atas perkataannya itu.

Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata, “Barangsiapa ingin memperdalam fiqih, maka hendaklah ia menajdi anak asuh bagi Abu Hanifah. Dia merupakan orang yang diberi taufik oleh Allah subhanahu wa Ta’ala dalam bidang fiqih.”

Wallahu’alam

 

 

*********

Penulis: Fachmy Casofa

Muraja’ah : Akhwat Diklat Kamupi PNUP
Buku : Meniti Jalan Pewaris Nabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *