LELUCON BERTEMAKAN AGAMA

  • admin
  • Monday 8 April 2019
  • Aqidah
  • 0

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah Rabb semesta Alam, atas segala rezki dan karunia tak terhingga yang diberikan oleh-Nya. Pemberi perlindungan dan Rahmat yang semoga kita senantiasa mendapatkannya. Shalawat dan salam kita panjatkan kepada panutan terbaik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seorang hamba yang telah mengajarakan kita setiap aktivitas kehidupan, dan untuk tidak melupakan tujuan hidup kita di dunia. Semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabat dan segenap pengikut setia mereka.

Dan Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam”. (QS Al-Anbiya : 107)

Ayat yang merupakan penegasan Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwasanya beliau diutus oleh Allah Ta’ala ke tengah-tengah manusia sebagai representasi suatu bentuk rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala kepada seluruh makhluk-Nya utamanya para manusia dan seluruh makhluk-Nya di permukaan bumi ini.

Islam dengan segala prinsip dan muatan ajarannya merupakan agama dan konsep hidup yang identik dengan kasih sayang, karena ia bersumber dari Allah Ta’ala yang tak lain adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kasih sayangnya tiada terbilang dan tiada pula berpenghujung, serta dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sang Rahmat yang dicurahkan oleh Allah Ta’ala sebagai hadiah yang sangat berharga untuk alam semesta dengan segala sifat mulia yang ada pada diri beliau yang semuanya menunjukkan demikian tingginya rasa kasih dan sayangnya.

Merupakan Perilaku Yang Menyimpang

Meskipun Islam  datang  dengan berbagai  kerahmatan ajarannya yang universal, penuh kasih saying  dan relevan di setap era, dan tempat, namun masih banyak umat islam yang masih belum sadar akan urgensi keislaman, dan dua kalimat syahadat yang mereka ikrarkan. Padahal, sebagai umat yang meyakini adanya Allah sebagai Maha Pencipta, dan Pengatur alam semesta, hendaknya mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak hanya meletakkan pedoman bagi alam semesta dan para makhluk lainnya agar hidup dan berjalan sesuai fungsi mereka, namun ia juga meletakkan pedoman hidup dalam bentuk agama bagi manusia.

Orang-orang yang seperti inilah yang kerap kali mengesampingkan dan melalaikan pedoman tersebut, yaitu mereka yang bersikap acuh terhadap ajaran agama ini sehingga melahirkan berbagai bentuk penyimpangan moral akidah. Diantara penyimpangan tersebut adalah melecehkan, mengolok-olok, dan menjadikan agama atau ajarannya sebagai lelucon, materi lawakan, obyek humor, dan bahan ejekan. Sedang perbuatan tersebut merupakan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah menyebutkan perbuatan mereka dalam firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS Al-Muthaffifin : 29-30).

Perbuatan Yang Mengundang Kekafiran

Karena memang agama ini adalah suatu yang mulia dan sangat tidak layak jika digunakan untuk jadi bahan candaan atau lawakan. Jika urusan dunia seperti ini saja tidak boleh, tentu urusan agama lebih tidak boleh lagi. Selain itu perbuatan ini menjadi faktor kekafiran sekaligus datangnya azab Allah di dunia dan akhirat. Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah mengingatkan adanya faktor kekafiran karena melawak, dan menghina agama ini dan bahwa mereka adalah orang yang terjatuh kepada kekafiran.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS At-Taubah : 65-66)

Selain itu, perbuatan melecehkan, mengolok-olok, dan menjadikan agama atau ajarannya sebagai lelucon, materi lawakan, obyek humor, dan bahan ejekan secara tidak langsung menghina Allah Ta’ala sehingga wajib hukumnya untuk bertobat dengNa tobat nashuha dan menyampaikan permohonan maaf kepada publik.

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. (QS. At-Tahrim : 8).

Bercandalah dengan Baik

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah teladan terbaik kita. Beliau telah memberikan contoh dan tuntunan dalam seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam bercanda dan senda gurau. Beliau tak luput memberikan arahan untuk kita amalkan. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku juga bercanda, namun aku tetap berkata yang benar.” (HR. Thabrani dalam Al Kabir).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “…Aku menjamin sebuah istana di tengah surga bagi siapa saja yang mau meninggalkan dusta meskipun dalam candaan” (HR. Abu Dawud). Itulah hadiah yang dijanjikan oleh Rasulullah bagi orang yang mau meninggalkan kedustaan meskipun dalam hal yang remeh seperti candaan.

Di lain sisi, banyak orang yang melalaikan hal ini dan menganggapnya sepele, padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  mengingatkan bagi pelakunya dalam sabda beliau, “Celakalah bagi orang yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat sekelompok orang tertawa. Celakah dia, celakalah dia!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita bercanda dengan cara mengambil dan menyembunyikan barang orang lain, karena beliau bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian mengambil barang saudaranya, baik cuma sekedar bercanda maupun serius.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hal ini karena mengambil dan menyembunyikan barang orang lain bisa menimbulkan kekhawatiran pada dirinya. Meskipun sering kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari hal ini biasa dilakukan oleh teman-teman kita, akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  yang sangat kita cintai melarang itu semua. Dan sebagai pengikut Rasulullah yang setia tentu kita akan mengikuti tuntunan dan arahan beliau yang itu semua berisi kebaikan untuk kita di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, sudah semesti kita menjaga lisan untuk tidak menjadikan agama sebagai olok-olokan atau bahan lawakan meskipun itu hanyalah candaan. Semoga Allah selalu menjaga lisan-lisan kita dari mencela agama-Nya senantiasa istiqamah dan mendapat lindungan-Nya. Amiin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *