Meminta Perlindungan dari Sifat Galau, Sedih, Lemah dan Malas

  • admin
  • Monday 27 April 2015
  • Uncategorized
  • 0

Bismillah,…

Seorang muslim memiliki banyak tugas dan hal yang harus dikerjakan selama menjalani kehidupan di dunia ini. Ada hak Allah, hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan hak Islam yang harus ia tunaikan. Ada hak orang tua, hak anak, hak istri, hak kerabat, hak tetangga dan hak tamu yang harus ia kerjakan. Ada hak sesama muslim dan bahkan hak kepada non muslim yang juga harus ia laksanakan.

Di hadapan banyak tugas dan tanggung jawab tersebut, seorang muslim dituntut untuk selalu memiliki kesehatan fisik dan ketegaran mental. Semangat tinggi untuk selalu berbuat, berkarya dan beramal harus senantiasa dinyalakan. Kemalasan dan keloyoan semangat harus dienyahkan karena keduanya hanya akan menjadi benalu yang menggerogoti keistiqamahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sangat memahami hakekat ini. Sebagai kekasih Allah Ta’ala yang memiliki grafik keimanan yang selalu meningkat, beliau sangat menyadari kemungkinan umatnya terjangkiti oleh virus kemalasan dan keloyoan semangat. Bagaimanapun, umatnya adalah manusia biasa yang grafik keimanannya mengalami pasang dan surut, naik dan turun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sangat mencintai umatnya. Maka beliau selalu menginginan kebaikan bagi umatnya. Salah satu bentuknya adalah doa-doa yang beliau ajarkan kepada umatnya agar mereka bisa menjaga keistiqamahan amal mereka dan terhindar dari virus ganas bernama kemalasan dan keloyoan semangat.

Salah satu doa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan sebagai pemacu semangat dan pengusir kemalasan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ»

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, tindihan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *