MENJADI SEORANG PEMIMPIN

  • admin
  • Saturday 13 April 2019
  • Sirah
  • 0

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah Rabb semesta Alam, atas segala rezki dan karunia tak terhingga yang diberikan oleh-Nya. Pemberi perlindungan dan Rahmat yang semoga kita senantiasa mendapatkannya. Shalawat dan salam kita panjatkan kepada panutan terbaik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seorang hamba yang telah mengajarakan kita setiap aktivitas kehidupan, dan untuk tidak melupakan tujuan hidup kita di dunia. Semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabat dan segenap pengikut setia mereka.

 

KEPEMPINAN adalah salah satu aspek yang dianggap sangat penting dalam Islam. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya ayat dan hadits Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang membahas tentang ini. Hal ini bisa dimengerti. Karena pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan suatu masyarakat.

Dalam agama Islam, semua persoalan yang menyangkut kehidupan ummat manusia telah ada aturannya yang sangat jelas dan detail. Sebagai contoh adalah aturan (syariat) tentang bagaimana tata cara bersuci (istinja’) dari najis saat buang air besar/kecil dan bersuci dari hadats (kentut, mandi junub). Demikian juga tata krama (‘adab)  saat bersin, makan, minum, tidur, buang air dan seterusnya.

Padahal ini menyangkut hal yang dampaknya bersifat sangat individual. Karena itu sangat logis jika dalam persoalan yang lebih besar dan luas dampaknya, Islam juga sangat peduli. Contohnya soal kepemimpinan ini. Hal ini karena aspek kepemimpinan ini luar biasa sangat besar dampaknya bagi kehidupan seluruh rakyat (ummat) di suatu negeri.

 

Hadits Nabi  berikut ini sebagai salah satu bukti begitu seriusnya Islam memandang persoalan kepemimpinan ini. Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

“Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Hadits ini secara jelas memberikan gambaran betapa Islam sangat memandang penting persoalan memilih pemimpin. Hadits ini memperlihatkan bagaimana dalam sebuah kelompok Muslim yang sangat sedikit (kecil) pun, Nabi  memerintahkan seorang Muslim agar memilih dan mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.

Ganjaran seorang pemimpin

Menjadi seorang pemimpin adalah perkara yang tidak mudah, karena seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak, apabila ia berpaling dari rakyatnya maka siksa Allah amat berat sesuai dengan hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan tersebut, kecuali  Allah mengharamkan surga untuk dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah Subhanahu Wa Taala  untuk  mengurus urusan  kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).  Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.  Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).

Namun apabila amanah dan memenuhi hak-hak rakyatnya maka ia pun akan mendapat naungan dari Allah Subhanahu Wa Taala, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin ini bersikap adil. Dalam hal amanat ia benar-benar mengembannya dengan baik, tidak melampaui batas dan tidak meremehkan. Keadilannya tidak beralih pada harta dan tidak beralih pada kesenangan dunia. Itulah pemimpin yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.

Sifat Kepemimpinan Rasulullah

Rasulullah adalah sosok pemimpin terbaik karena tidak ada yang dapat menandingi akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah,” (Q.S. Al Ahzab: 21).

Diantara sifat-sifat yang wajib diteladani dan harus dimiliki oleh pemimpin, antara lain adalah Siddiq atau jujur, beliau selalu memperlakukan orang dengan adil dan jujur. Beliau tidak hanya berbicara dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan dan keteladanan. Kata-kata beliau selalu konsisten. Tidak ada perbedaan antara kata dan perbuatan.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda ,”hendaklah kalian bersikap jujur. Kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkannya kepada surga. Dan senantiasa seseorang bersikap jujur dan terus berupaya menjaga kejujurannya sampai dengan dicatat disisi Allah bahwa ia adalah seorang yang jujur….”. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Lalu sifat kedua adalah amanah, Rasulullah saw. dikenal sangat memiliki kesiapan dalam memikul tanggung jawab. Memperoleh kepercayaan dari orang lain. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang sangat terpercaya, dan ini diakui oleh musuh-musuhnya. Bersifat amanah berarti menyampaikan semua perintah Tuhan tidak dikurang tidak pula ditambah berdasarkan wahyu yang ditulis dan dikumpul perlahan. Beliau disiplin dan adil dalam menegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Berkesiapan memikul tanggung jawab tanpa keraguan . Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama.

Tabligh merupakan sifat Rasul yang ketiga  artinya menyampaikan. Sifat Ini adalah sebuah sifat Rasul untuk tidak menyembunyikan informasi yang benar apalagi untuk kepentingan umat dan agama. Beliau tidak pernah sekalipun menyimpan informasi berharga hanya untuk dirinya sendiri. Beliau sering memberikan berita gembira mengenai kemenangan dan keberhasilan yang akan diraih oleh pengikutnya di kemudian hari.

Fathanah merupakan sifat rasul yang keempat, yaitu akalnya panjang sangat cerdas sebagai pemimpin yang selalu berwibawa. Selain itu, Seorang pemimpin juga harus memiliki emosi yang stabil, tidak gampang berubah dalam dua keadaan, baik itu dimasa keemasan dan dalam keadaan terpuruk sekalipun itu. Menyelesaikan masalah dengan tangkas dan bijaksana. Sifat Pemimpin adalah cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada umat. Sang pemimpin harus mampu memahami betul apa saja bagian-bagian dalam sistem suatu organisasi/lembaga tersebut, kemudian ia menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai sisi yang telah digariskan. Seorang pemimpin harus memahami sifat pekerjaan atau tugas yang diembannya. Serta mampu memberikan keputusan secara tepat dan benar.

Perkara pemimpin memang tidak mudah, namun apabila kita menjadikan Rasulullah sebagai contoh dalam memimpin maka akan mendatangkan banyak manfaat bagi diri sendiri dan juga untuk ummat. Semoga kita senantiasa istiqamah dan mendapat lindungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *