Mewaspadai Penyebab Lemahnya Iman

  • adminscb
  • Saturday 15 August 2015
  • Uncategorized
  • 0

Karunia yang paling berharga dalam hidup manusia adalah agamanya dan iman kepada Rabbnya. Dan sesungguhnya iman seseorang kepada Rabbnya, sikap membenarkan janji dan ancaman-Nya, mentaati-Nya, mentaati rasul-Nya, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah buah keimanan yang dengannya akan tercapai kebahagiaan di dunia dan keberuntungan serta keselamatan di akhirat.

Namun iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Sehingga manusia dituntut selalu waspada dan berusaha agar imannya tidak lemah, kurang atau bahkan hilang.

Sebagian ulama terdahulu berkata:

“Termasuk pemahaman seorang hamba (terhadap agamanya) adalah selalu menjaga keimanannya dan apa yang dapat menguranginya, dan termasuk pemahaman seorang hamba (terhadap agamanya) adalah hendaknya dia mengenali apakah bertambah keimanannya atau berkurang? dan termasuk pemahaman seorang hamba (terhadap agamanya) adalah hendaknya seseorang mengenali dari mana datangnya godaan syetan kepadanya?.” Lihat kitab Syarah Nuniyat Ibnul Qayyim karya Ibnu Isa, 2/140.

Berikut beberapa perbuatan yang dapa membuat lemahnya keimanan seseorang.

 

1. Banyak melakukan maksiat sampai akhinya meremehkan dan akhirnya kecanduan!

Syetan ketika mengganggu manusia tidak akan pernah langsung memerintahkannya untuk berbuat maksiat, tetapi syetan akan menggunakan trik yang sangat banyak, untuk akhirnya seorang manusia terperosok di dalam maksiat, setelah itu syetan tidak membiarkannya begitu saja tetapi terus digoda sehingga dia terus melakukan maksiat tersebut sampai akhirnya ada perasaan biasa dan meremehkan sampai akhirnya dia biasa melakukannya dan bahkan kecanduan!

Awal mula dari semua ini adalah hanya dari satu maksiat yang dikerjakan dan dianggap remeh!

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِى بَطْنِ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ»

Artinya: “Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil, sebagaimana suattu kaum yang turun di sebuah lemah, lalu datanglah seorang dengan membawa kayu dan yang lain membawa kayu sampai mereka bisa membakar roti mereka, sesungguhnya dosa-dosa kecil kapan dikerjakan maka akan menghancuran pelakunya.” HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 389.

Seorang mukmin ketika melihat dosa tidak sama dengan orang fajir yang banyak dosa!

Berkata Abdullah bin mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدِيثَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَالآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ «إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ» فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dia khawatir gunug tersebut menimpanya dan seorang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di atas hidungnya,” lalu dia kibas dengan tangannya.” HR. Bukhari.

Sebagian dosa di zaman sekarang dianggap kecil oleh kita, tetapi sebenarnya dia termasuk dosa yang sangat membahayakan di dalam keyakinan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ الْمُوبِقَاتِ

Artinya: “Abu Said radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan yang kalian anggap lebih tipis daripada rambbut, padahal kami dahulu pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganggapnya termasuk dari dosa besar yang membinasakan.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadist Ash Shahihah, no. 3023.

Kalau sudah sering, akhirnya kecanduan bahkan tidak malu melakukan dan memberitahukannya di depan khalayak ramai

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ «كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ»

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:  “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku diselamatkan kecuali orang-orang yang bersifat mujahir, dan sesungguhnya termasuk sikap mujahir adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan dalam keadaan telah ditutupi dosanya oleh Allah Ta’ala, lalu dia mengatakan: “Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini,” padahal Rabbnya telah menutupi (dosanya) tetapi di waktu pagi dia mengungkap penutup Allah tersebut dari dirinya.” HR. Bukhari.

 

2. Tidak memperhatikan kwalitas ibadah

Termasuk lemahnya iman adalah; beribadah yang penting selesai, yang penting lepas kewajiban, yang penting banyak, dan masih banyak lagi yang penting-yang penting lagi menurutnya, tetapi sedikitpun tidak memperhatikan kwalitas amal ibadah, sehingga bagaimana amalan tersebut diterima bukan hanya sekedar amalan tersebut terlaksana.

Allah Ta’ala berfirman:

{ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} [المائدة: 27]

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima dari orang yang bertakwa.” QS. Al Maidah: 27.

Oleh sebab ayat inilah Abu Ad Darda radhiyallahu ‘anhu berkata:

لأن أستيقن أن الله قد تقبل مني صلاة واحدة أحب إليّ من الدنيا وما فيها، إن الله يقول: {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}

“Sungguh aku jika aku meyakini bahwa Allah Ta’ala telah benar-benar menerima dariku sebuah shalat lebih aku sukai daripada mendapatkan dunia dan seisinya, karena sesungguhnya Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima dari orang yang bertakwa.” Lihat kitab tafsir Al Quran Al ‘Azhim.

Diriwayatkan Ali bin Abi Thalib (w:40H) radhiyallahu ‘anhu berkata:

كونوا لقبول العمل أشد اهتماما منكم بالعمل ألم تسمعوا الله عز و جل يقول: {إنما يتقبل الله من المتقين}

“Bersikaplah untuk diterimanya amal lebih perhatian dibandingkan beramal, bukankah kalian mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27.

Fudhalah bin Ubaid (w:53H) radhiyallahu ‘anhu berkata:

و عن فضالة بن عبيد قال : لأن أكون أعلم أن الله قد تقبل مني مثقال حبة من خردل أحب إلي من الدنيا و ما فيها لأن الله يقول: {إنما يتقبل الله من المتقين}

“Sungguh jika aku mengetahui bahwa Allah telah benar-benar menerima dariku seberat satu biji sawi lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” QS. Al Maidah: 27.

Ibnu Dinar (w:127H) rahimahullah berkata:

الخوف على العمل أن لا يتقبل أشد من العمل

“Takut terhadap amalan yang tidak diterima lebih dahsyat daripada beramal.”

Berkata Abdul Aziz bin Abi Rawwad (w: 157H) rahimahullah:

أدركتهم يجتهدون في العمل الصالح فإذا فعلوه وقع عليهم الهم أيقبل منهم أم لا؟!

“Aku mendapati mereka bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dan jika mereka telah beramal, terdapat pada mereka kegelisahan, apakah diterima amalan mereka atau tidak?!.” Lihat kitab Lathaif Al Ma’arif, Karya Ibnu Rajab Al Hanbali, Hal. 232.

 

3. Malas dalam beribadah dan ketaatan

Sifat malas terutama dalam beribadah adalah sifatnya orang munafik bukan sifatnya orang beriman.

Allah ta’ala berfirman:

{ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء: 142]

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” QS. An Nisa: 142.

 

4. Tidak marah ketika hukum dan batasan Allah Ta’ala dilanggar apalagi sampai dilecehkan.

Ketika ada yang;

– Berbuat kesyirikan; membuat sesajen untuk pohon, laut atau semisalnya, meminta barokah dari orang yang sudah meninggal, memakai jimat/benda pusaka/keris pusaka, pergi ke dukun menanyakan sesuatu, menyembelih ketika membangun rumah, mempercayai ramalan bintang dan primbon, merasa sial ketika melihat atau mendengar sesuatu, menggantung jimat dirumah/ di toko/ di dalam diri, memakai susuk, memakai rajah-rajah, meminta pertolongan kepada jin dan sebagainya.

– Berbuat bidah; ibadah yang dikhususkan pada waktu tertentu, pada keadaan tertentu, pada jumlah bilangan tertentu, pada tempat tertentu, karena sebab tertentu yang tidak ada pengkhususan dan contoh atas semuanya ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Berbuat maksiat; berzina, mencuri, menganiya, menipu, membunuh, berdusta, wanita di luar rumahnya tidak menutup auratnya bahkan sampai memakai celana yang lebih pendek daripada celana amak SD, korupsi dan sebagianya.

Dan kita tidak mengingkari semuanya ini, walau hanya dengan hati… maka ini termasuk lemahnya iman.

عَنِ الْعُرْسِ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «إِذَا عُمِلَتِ الْخَطِيئَةُ فِى الأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا ». وَقَالَ مَرَّةً « أَنْكَرَهَا» « كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا»

Artinya: “Al ‘Urs bin Umairah Al Kindy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika sebuah dosa dilakukan di bumi, maka siapa yang telah menyaksikannya lalu dia membencinya”, dan beliau juga berkata: ‘lalu dia mengingkarinya, sebagaimana orang yang tidak menghadirinya dan barangsiapa yang meridhainya maka dia seperti orang yang menghadirinya.” HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 689.

 

5. Bakhil dan pelit serta kikir

Yang menjadi ukuran dalam harta bagi seorang muslim adalah bagaimana dia menjalankan harta tersebut di jalan Allah Ta’ala, bukan bagaimana mengumpulkan harta tersebut. Dan tidak akan terkumpul keimanan dan sifat bakhil dan kikir dalam hati seorang mukmin.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ عَبْدٍ وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا)

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidak akan terkumpul debu dalam berjihad di jalan Allah dengan asap neraka jahannam di dalam mulut seorang hamba, dan tidak akan terkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” HR. An Nasai dan Ahmad serta dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 7616.

 

6. Mengerjakan maksiat ketika sendirian atau dalam kesunyian dan semisalnya

Jagalah keadaan anda ketika sendirian sebagaimana anda menjaganya ketika di hadapan orang banyak…

Jagalah diri Anda dari dosa ketika sendirian sebagaimana Anda menjaganya ketika di hadapan khalayak ramai…

Hati-hatilah dari dosa-dosa yang dikerjakan sembunyi-sembunyi… sangat hati-hati!!!

ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : «لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا».

 

Artinya: “Tsauban radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan memberitahukan tentang orang-orang dari umatku yang akan datang dengan membawa pahala-pahala kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah Azza wa Jalla menjadikannya sebagai debu yang berterbangan.” Tsaubanradhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, sebutkan sifat mereka kepada kami, jelaskan mereka untuk kami agar kami tidak menjadi mereka dalam keadaan kami tidak sadar,” beliau bersabda:“Ketauhilah, sesungguhnya mereka adalah kawan kalian, dari bangsa kalian dan beribadah pada malam hari sebagaimana kalian beribadah akan tetapi mereka orang-orang yang jika menyendiri dengan hal-hal yang diharamkan Allah maka mereka mengerjakannya.” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 505.

Semoga kita bisa menghindari hal-hal yang menyebabkan lemahnya iman diatas, agar kita senantiasa menjadi Insan yang bertaqwa diahadapan Allah SWT.

semoga bermanfaaat… wallahu a’lam bish showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *