Moment Pengucapan “Maasya Allaah” dan “Subhaanallaah”

  • akhwat
  • Tuesday 29 March 2016
  • Uncategorized
  • 0

Pertama:Ucapan Maasya Allaah
Secara umum ucapan “Maasya Allah” diucapkan tatkala takjub atau kagum melihat atau mendengar sesuatu, dan dianjurkan untuk menambahnya dengan ucapan “La Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaah”, sesuai dengan ayat:
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
‘Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”‘
(QS. Al-Kahfi: 39).

Hal ini tentunya agar terhindar dari adanya penyakit ‘ain (yaitu penyakit yang bisa menimpa seseorang disebabkan rasa kagum atau takjub kepadanya, tentunya dengan adanya campur tangan syaithan). Serta sangat dianjurkan untuk menambahkan doa keberkahan (Baarakallaahu laka/ Semoga Allah memberikanmu keberkahan) bila kagum terhadap sesuatu/seseorang sebagaimana dalam hadits shahih:
اذا رأى أحدكم من نفسه , أو ماله أو أخيه ما يحب فليبرك فان العين حق
Artinya: “Jika salah seorang dari kalian melihat dirinya, hartanya, atau saudaranya yang menyenangkan, maka hendaknya ia mengucapkan doa keberkahan atasnya, sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya.”
(HR.Ahmad dan Al Hakim).

Adapun makna “Maasya Allah” maka bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan:
1.Bermakna: “inilah yang diinginkan oleh Allah”
2.Bermakna: “apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi”
Sehingga ketika kita ucapkan “Maasya Allah” tatkala kagum atau takjub: maka berarti bahwa kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Allah Ta’ala.
(Lihat: Tafsir Surah Al-Kahfi – Syaikh Ibnul-‘Utsaimin: hal.72).

Kedua: Ucapan Subhaanallaah
Dzikir “Subhaanallaah” atau Tasbih merupakan salah satu lafadz dzikir yang mutlak dibolehkan diucapkan kapan dan dimana saja, ia merupakan pengakuan dan penegasan akan kesucian Allah dari segala kekurangan dan kesamaan dengan makhluk-Nya baik secara sendiri “Subahaanallah” ataupun tergabung dengan lafadz dzikir lainnya seperti “Subahaanallaahi Wa bihamdihi subahaanallaahil-‘Adzhiim” ataupun lafadz tasbih lainnya seperti: ”Subahaana rabbiyal-a’laa” dll.
Pada lafadz pengucapan “Subhaanallaah” secara umum bisa diucapkan kapan dan dimana saja, namun ditegaskan dan ditekankan dalam banyak moment dan kondisi tertentu, diantaranya:

1.Ketika dzikir setelah shalat 33 x bersamaan dengan Alhamdulillah dan Allaahu akbaru sebagaimana dalam hadits shahihain Muttafaq ‘alaihi.

2.Ketika merasa keheranan atau untuk membantah dan menafikan sesuatu yang salah. Hal ini merupakan kebiasaan para salaf dari kalangan sahabat dan tabiin. Contohnya banyak dalam ayat Al-Qur’an, diantaranya:
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya: “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”
(Qs. al-Mu’minun: 91).
Juga dalam ucapan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika keheranan dan membantah ucapan Hiraklius dalam suratnya yang menafikan neraka dengan mengatakan: “Kalian menyeruku kesurga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu neraka ada dimana?”, Nabi kita langsung menimpali: “Subhaanallaah, bila ada malam, tentu ada juga siang (demikian pula bila ada surga, tentu ada nereka)”.
(HR.Abu Ya’la: 1597 dengan sanad hasan).

3.Juga mengucapkan “Subhaanallaah” ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan, sebagaimana dalam
(HR.Bukhari: 3599 dan 6218).

4.Dzikir: “Subhaanallaahi wabihamdihi” 100 kali setiap pagi dan petang. (Dalam HR Muslim: 2692).

5.Ketika dzikir sebelum tidur: Subhaanallaah 33 kali, dengan disertai Alhamdulillah: 33 kali, dan Allaahu akbar: 34 kali. (HR.Muslim: 2726).

6.Diucapkan oleh sang makmum untuk menegur sang imam yang salah dalam melakukan gerakan sholat.
Wallaahu a’lam.

~Oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah (Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadits, Universitas Islam Madinah)
~Sumber : Grup WA Belajar Islam Intensif~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *