Perbaikan Niat, Awal Keikhlasan

  • admindw
  • Wednesday 27 May 2015
  • Uncategorized
  • 0

unnamed%20(3)[1]

Apakah tingkatan ikhlas yang paling mendasar?        Bagaimana kita menggapaianya?

Pintu gerbang keikhlasan ialah sesuatu yang bernama  niat. Sehingga,jika kita ingin ikhlas, kita harus selalu  memperhatikan niat.

Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam bersabda,

“sesungguhnya semua amal itu dengan niat. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan.”

Hadist tersebut adalah hadist khusus niat.Mengapa tentang niat? Karena niat merupakan pintu gerbang keikhlasan, karenanya, jika kita ingin ikhlas, langkah pertama adalah mengoreksi niat.

Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “ Sesungguhnya semua amala itu dengan niat. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan, Barang siapa yang hijtranya karena ALLah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia dan wanita , maka hijrahnya itu untuk apa yang ia berhijrah karenanya.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim).

ini muncul, tatkala terjadi peristiwa hijrah dari mekkah ke madinah. Ada seorang lelaki yang ikut berhijrah karena cintanya kepada seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Para sahabat pun saling silang pendapat, apakah hijrahnya diterima atau tidak. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam mensabdakan hadist di atas, sehingga hijrah laki-laki itu disebut hijrah Ummu Qais.

Saat berwasiat kepada saudaraku yang tercinta agar selalu memperhatikan niat sebelum melakukan suatu amalan. Carilah niat yang baik, karena kita akan diganjar dengannya. Ulama berkata, “ Berapa banyak amal kecil yang ganjarannya dilipatgandakan dengan niat?”

Seorang salaf mengatakan “ pelajarilah niat kalian, sebagaimana kalian belajar ilmu.” Kita akan mempelajari bgaimana berniat ini kita mulai dari apa objek niat kita, yaitu amal ibadah, adat kebiasaaan dan perkara yang di luar kemampuan manisia.

 

PERTAMA, NIAT DALAM PERKARA IBADAH

Jangan sampai kita berbuat sesuatu tanpa didasari dengan niat. Baik ketika menuntut ilmu, melakukan shalat atau pergi haji dan umrah. Perhatikanlah niat kita. Ingatlah nasehat ini. Bagaimana menjadi orang yang ikhlas? Dengan mencari niat.

Bagaimana mencarinya? Mulailah dari hal-hal kecil. Mulailah dengan amal ketaatan. Usahakan agar kita tidak keluar rumah sebelum mempunyai niat. Niatlah dulu.dan ketika di perjalanan atau saat masih di rumah, pikirkan mengapa aku harus pergi? Apa niatku?

“Wahai Rabbku,berikanlah aku niat yang baik, wahai Tuhanku perbaguslah niatku, wahai Rabbku berilah aku niat ikhlas.”

Kita tidak bisa melangkah satu langkah saja kecuali dengan niat. Berbahagialah, jika kita mampu menjadi seperti itu. Idealnya, setiap kita pergi ke masjid, ingatlah selalu niat kita. setiap memakai jilbab sesuai syar’I di pagi hari, ingat kembali niat kita. Mengapa kita memakainya di hari itu?

Agar semangat dan keikhlasan di hati kita menjadi baru kembali sehingga keimanan kita tidak mengalami degradasi (futur) dan kelunturan. Di anatara sebab utama degradasi pada hamba yang shalih atau merupakan telah lama melakukan ketaatan ialah tidak lagi memeperbarui niat.

Mungkin kita pernah menemukan wanita yang memakai jilbab, lalu dia melepasnya –Na’udzubillahi min dzalik. Ini adalah kemaksiatan besar seandainya tidak termasuk dosa besar, tentu itulah musibah yang menyebabkan Allah sangat marah. Kami tidak mengatakan ia bukan seorang muslimah. Bisa jadi ia mencari wajah Allah Azza wa Jalla dengan amal ketaatan lainya. Tetapi ketika memakai jilbab, ia melupakan niat dan tidak pernah melakukan pembaharuan niat.

Mestinya, dia bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa aku memakai jilbab?” dan dijawab dengan tegas, “Taat kepada Allah, menjalankan perintah Rasul-Nya, bertasyabuh dengan wanita mukmin, malu kepada Allah dan ingin ridha Allah. Maka, aku ingin sekali memakai jilbab, dan setiap hari kuperbaharui niat di hatiku”.

Demikian juga dengan para pemuda yang telah terbiasa  melakukan shalat di masjid. Hendaknya, mereka memeperbaharui niat sebelum melakukan satu gerakan apa pun, atau sebelum melakukan satu dari amal-amal ketaatan. Dengan demikian, kita akan tetap ikhlas, terus mementingkan ketaatan kepada Allah.

Saudaraku para pemuda, siapa diantara kita yang akan terus beramal setelah usia tiga puluh tahun? Siapa dari saudariku yang setelah menikah dan mempunyai anak tetap dalam tingkat ketaatan yang sama. Dan siapa yang mengalami degradasi? Siapa yang akan tetap dan tidak berubah? Siapa yang akan bertambah?

Kebanyakan kita butuh menambah iman. Siapa yang akan tetap, dan siapa yang akan tambah? Siapa yang sepanjang umur melakukan aktivitas, dan memiliki niat mencari ridha Allah? Meski amal yang ia lakukan kecil, tetapi niat yang ia miliki jelas. Ini hal pertama, niat dalam ketaatan.

 

KEDUA, NIAT DALAM ADAT KEBIASAAN

Niat mengubah adat kebiasaan menjadi ibadah. Contoh untuk ini banyak. Kita akan memulai dengan contoh belajar. Telah saya katakana, “Pelajarilah niat!” Tetapi, bagaimana kita mempelajari niata dalam belajar? Saya akan bertanya, “Mengapa kita belajar?” kita mungkin menjawab, “Saya belajar agar tidak dimarahi orangtua.” “Karena memang harus beajar.” “karena semua siswa melakukan itu…”

Dalam keadaan begini, kita tidak akan mendapat pahala, dan kita tidak melakukan perintah Allah,dimana keihkhlasan belajar? Tidak ada!

“Katakanlah: “sesungguhnya shalatku, ibadatku,hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah…”, (Al-An’am: 162)

Agar kita ikhlas, kita harus memepersiapkan niat. Karena gerbang ikhlas adalah niat. Lalu, apa yang akan kita lakukan? Kita harus memikirkan mengapa kita belajar! Katakanlah, “Aku akan belajar, karena orang shalih tak layak gagal. Sehingga aku tidak akan mencoreng muka orang mukmin na shalih..”

“Aku akan belajar karena sampai sekarang yang menakhodai dunia adalah orang kafir, orang fasik atau orang tak berguna. Maka kini tiba giliran salah satu dari orang shalih memimpin dunia..”

“Saya akan belajar hingga saya memiliki kedudukan terhormat di masyarakat, lalu saya akan menyeru manusia kepada Allah Azza wa Jalla.

Dengan niat ini, setiap goresan pena atau pandangan mata pada kitab akan menerima pahala. Perhatikanlah agama yang indah ini, yang mengubah adat kebiasaan menjadi ibadah. Kita belajar dan mendapat pahala, dan mungkin hati kita akan bertambah semangat dalam belajar, karena niat yang baik. Kadang sebelum dua jam kita tidak mampu mempelajari satu kata, apa yang terjadi? Niat akan datang, lalu ikhlas, kemudian ridha, maka jadilah hati kita rajin.

Apakah tujuan kita berpakaian bagus agar bisa menunjukkanya di depan orang lain? Kita tidak akan mendapat pahala disisi Allah dengan niat ini! Itu bukan sikap seorang mukhlis! Setiap waktu dan harta yang kita gunakan tidak ada keikhlasan. Lakukan ikhlas dalam hal ini! Bagaimana?

Berniatlah, berniatlah dengan pakaian kita, wahai yang berhijab, untuk menjadi dai di jalan Allah. Tidak masalah, jika baju kita baju yang indah, menarik, lagi sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan itu kita telah berhijab dan taat di jalan Allah. Maka sangat mungkin pandangan seorang wanita kepada kita akan menjadikan ia memakai hijab. Sehingga harta dan pakaian yang diguanakan akan memberatkan timbangan.

Saya ingin bertanya, apakah ini mudah atau susah? Demi Allah, ini mudah. Untuk sempurna dalam berikhlas memang susah, tetapi berniat dalam melakukan ibadah dan ada kebiasaan kita sangat mungkin dilakukan.

 

KETIGA, NIAT DALAM PERKARA YANG TIDAK KITA MAMPU

Apa maksud perkara yang tidak kita mampu? Seperti apa? Nabi bersabda, “Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan pada syuhada”,meskipun ia mati di atas ranjangnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan at-Turmudzi).

Saya ingin bertanya, jika kita semua ingin mati syahid. Apakah kita rugi kalau kita mati menjadi syuhada? Tahukah anda, kalau ikhlas itu, yang menentukan kedudukan kita di syurga? Juga kaum wanita? Yah, juga kaum wanita.

Berniatlah pada perkara kita tidak mampu! Apa yang tidak kita mampu dari ketaatan? Haji, Umrah? Katakan, “Ya Allah, jika engkau memberiku harta, maka aku akan melakukan umrah, mengunjungi masjid Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam setiap tahun.” Dengan ini, kita telah meraih pahala umrah setiap tahun.

Tahukah anda, bagaimanakah kita harus berniat? Nabi bersabda,

Siapa yang mendatangi ranjangnya sambil berniat melakukan shalat lail, tetapi ia terserang kantuk sampai pagi, ia akan mendapat pahala sesuai yang ia niatkan.”

(HR. Al-Bukhari)

Jika kita tidur dan tidak melakukan shalat lail(tahajjud) kemudian tidak berusaha semestinya mislanya dengan tidak menghidupkan waker kemudian kita mengatakan, “Tuhanku, aku berniat melakukan shalat lail sejak satu tahun yang lalu,” apakah kita menyangka mendapat pahala mendirikan shalat lail meski tidak kita jalani? Tidak! Berusahalah seperti niat kita. Artinya, kita menaiki rannjang sambil berniat melakukan shalat lail dengan niat yang benar karena Allah Penguasa Alam Semesta. Namun, fajar telah menyingsing hingga kita harus shalat fajar dan tertinggal melakukan shalat lail. Maka beruntunglah kita, karena kita mendapat pahala shalat lail.

Mudah bukan? Siapa yang mengatakan Islam itu agama sulit? Siapa yang takut dengan Islam setelah ini? Siapa yang takut dengan orang yang komitmen dengan agama Islam, karena Islam susah dan hanya membuat rumit? Adakah amal yang lebih mudah dari ini? Saya katakan, berniatlah pada perkara yang tidak kita miliki! Sudahkan kita belajar niat atau belum? Yaitu dalam 3 hal:

  • Niat dalam ketataatan
  • Niat dalam adat kebiasaan
  • Niat dalam perkara yang kita tidak mampu

Adakah agama yang lebih mulia dari ini? Bukankan nikmat Allah adalah niat? Kita tidak pernah untuk berfikir untuk itu!!

 

(Sumber : Khalid, Amru. 2006. Hati Sebening Mata Air. Solo:PT. Aqwam Media Profetika.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *