Perdebatan Sang Pendukung Fanatik

Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia telah berlangsung beberapa pekan yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 April 2019. Sesi perdebatan antara Capres dan Cawapres tidak lagi ditayangkan di televisi. Namun, ada satu hal yang nampaknya masih terus berlanjut. Perdebatan para pendukung kedua kubu yang saling menjatuhkan satu sama lain, terutama di media sosial.

 

Perdebatan semacam ini bukan lagi hal baru di negeri tercinta kita. Setiap hari, media sosial seakan tak pernah sepi dari perdebatan mengenai topik apapun, terutama politik. Bahkan perdebatan pada pemilu tahun 2014 pun masih terbawa hingga pemilu tahun ini. Perlu kita ketahui bahwa debat yang tercela adalah debat yang tidak memakai dasar ilmu, tanpa dalil. Perdebatan itu sangat merugikan apabila kita lakukan. Maka sudah seharusnya kita “mengalah” dan meninggalkan debat tersebut, sebagaimana ungkapan:

“Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah”.

 

Berdebat (apalagi di media sosial) menimbulkan banyak kerugian, diantaranya yaitu:

 

  • Pertama,Membuang-buang waktu yang berharga. Waktu kita akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya.

 

  • Kedua,Mengeraskan hati karena sering sakit hati dan berniat membalas. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu menghendaki kebaikan pada saudaranya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim)

 

  • Ketiga,Berdebat akan menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin, padahal kita diperintahkan agar menjadi saudara se-iman.

 

Nabi Sulaiman ‘alaihis sallam berkata kepada anaknya,

Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi)

 

  • Keempat,Mengalah yaitu meninggalkan debat (walaupun nanti akan dikira akan kalah) bukanlah kalah yang sesungguhnya. Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda-kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna. Oleh karena itu mengalah dan meninggalkan perdebatan, pahalanya sangat besar.

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)

 

  • Kelima,Walaupun sebenarnya kita bisa menang dalam berdebat akan tetapi, bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah, padahal dia mengakui kebenaran telah datang. Terkadang dakwah ditolak bukan karena materinya yang salah atau orang yang menyampaikan, tetapi cara dakwah yang tidak dapat diterima. Salah satunya adalah dakwah dengan debat kusir yang tidak bermanfaat.

 

Sekali lagi dakwah itu untuk kebaikan dan berniat kebaikan, perhatikan betapa tawadhu-nya Imam Syafi’i, beliau berkata:

Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat.” (Adabu Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 69)

 

Beliau juga berkata,

Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru.” (Tabyinu Kadzbil Muftari hal. 340)

 

  • Keenam, Menghilangkan keberkahan ilmu. Secara umum, orang yang suka berdebat (yang tercela) akan menghilangkan keberkahan pada ilmunya. Karena orang yang menjatuhkan diri dalam perdebatan (yang tercela) tujuannya hanya ingin dirinya menang. Itulah sebab, hilangnya berkah ilmu pada dirinya.

 

Telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.” (HR. Bukhari, no. 4523; Muslim, no. 2668)

 

Semoga kita tidak terpancing ikut berdebat dan dihindarkan dari berdebat agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa yang terpecah belah.

 

 

Sumber:

https://muslim.or.id/37204-mengalah-dalam-debat-yang-tidak-bermanfaat.html

https://rumaysho.com/13513-ingin-berkah-ilmu-tinggalkan-debat.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *