QOLBUN SALIM

Hati diumpamakan sebagai inti dari tubuh di mana dikatakan bahwa jika hati baik, maka baiklah anggota badan lainnya. Jika hati rusak maka rusak pula yang lainnya. Oleh karena itu, jagalah hati. Sebab, hati  ibarat generator penggerak setiap tindakan dan perbuatan seseorang. Baik-buruk perbuatannya tergantung pada bagus atau rusaknya hati, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari No.52)

Al-Imam Muhammad bin Sirin Rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya kalbu Bani Adam itu lemah, sedangkan syubhat selalu menyambar-nyambar.”

Makna Qalbun Salim

Allah berfirman yang artinya, “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89)

Ibnu Katsir berkata, “‘(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’ Artinya, harta seseorang tidak akan bisa menjaga diri orang tersebut dari azab Allah, walaupun dia menebusnya dengan emas seluas dan sepenuh bumi. ‘Dan tidak pula anak-anak laki-laki’, artinya tidak pula bisa menghindarkan dirinya dari azab Allah, walaupun dia menebus dirinya dengan semua manusia yang bisa memberikan manfaat kepadanya. Yang bermanfaat pada hari kiamat hanyalah keimanan kepada Allah dan memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelakunya.

Allah kemudian berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.’ Yaitu, hati yang terhindar dari kesyirikan dan dari kotoran-kotoran hati.”

Intinya, hati selamat adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun, bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, yaitu irodah (keinginan), cinta, tawakkal, inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya ditujukan pada Allah semata.Demikian ungkapan Ibnul Qayyim yang amat berharga yang beliau sampaikan dalam kitab beliau Ighotsatul Lahfaan.

Mengenal Nutrisi Hati dan Kiat menggapai Qalbun Salim

Untuk menggapai hati yang selamat, pemiliknya harus mengetahui apa saja yang menjadi penyebab sehatnya hati. Seluruh ketaatan adalah mutlak bagi hidupnya hati. Ia ibarat makanan segar yang kaya nutrisi dan sarat enzim. Untuk itu, dalam menggapai Qalbun Salim dibutuhkan ketaatan-ketaatan yang sangat urgen bagi sehatnya hati, diantaranya:

  1. Dzikrullah. Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari air? Demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir yang paling utama adalah membaca kitabNya.” Allah berfirman, “Wahai manusia, telah datang kepada kalian suatu pelajaram dan obat bagi apa-apa yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57).
  2. Istighfar. Memohon maghfirah kepada Allah. Maghfirah adalah penjagaan dari akibat buruk dosa dan penutupan atasnya. Allah berfirman, “Dan mintalah maghfirah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199).
  3. Doa. Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan Dia berjanji untuk mengabulkannya. Allah berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombog (enggan) beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan terhina.” (QS. Al Mukmin: 60).

Abu Sa’id Al Khudriy meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap muslim yang memohon –selain suatu dosa dan pemutusan hubungan silaturahmi- pasti Allah akan memberi salah satu dari tiga hal; doanya dikabulkan dengan segera, atau doanya disimpan untuk di akhirat, atau lantaran doa tersebut ia dijauhkan dari mara bahaya sebesar kebaikan yang ia pinta.” (HR. Imam Ahmad).

  1. Bershalawat atas Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mendengar namaku disebut, hendaknya ia bershalawat atasku. Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kejahatan,  dan diangkatlah ia sepuluh derajat.” (Hadist shahih riwayat Ibnu As-Sunniy, ‘Amalul yawm wal Laylah no. 382)
  2. Qiyamul Layl. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika ia tidur. Ia pukulkan pada tiap tempat ikatan itu ucapan, “malam masih panjang, tidur lagi sajalah!” Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika dilanjutkan dengan berwudhu, terurailah ikatan yang kedua. Dan jika dia shalat lepaslah ikatan yang ketiga. Maka pagi harinya pun ia bersemangat dan baik kondisi jiwanya. Sebaliknya jika tidak, ia pun jadi malas dan buruk kondisi jiwanya.”

Ciri Qalbun Salim

Hati bisa hidup dan bisa mati, hati yang hidup pun bisa sehat dan bisa mengandung penyakit. Hati dinyatakan sehat dan selamat, apabila;

  1. Kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduan seorang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu’adz berkata, “Barangsiapa senang untuk berkhidmah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, segala sesuatu akan senang untuk berkhidmah kepadanya. Barangsiapa tentram dan sejuk hatinya lantaran (taat kepada) Allah ‘Azza wa Jalla, tentram dan sejuk hati pulalah semua yang memandangnya.”
  2. Pemilik hati yang sehat hanya memiliki satu keinginan; taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  3. Sangat bakhil kepada waktu. Menyesal jika waktu terbuang sia-sia. Kebakhilannya terhadap waktu, melebihi kebakhilan manusia terkikir terhadap hartanya.
  4. Jika telah masuk waktu shalat lenyaplah segala harapan dan kesedihannya terhadap dunia. Ia mendapatkan kelapangan, kenikmatan, penyejuk mata dan penyejuk jiwa di dalam shalat itu.
  5. Tidak pernah letih untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak pernah bosan untuk berkhidmah kepadaNya dan tidak bersikap manis kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kebenaran atau mengingatkannya akan Rabbnya.
  6. Perhatiannya untuk membenarkan amalan (membuat suatu amal dilakukan secara benar), melebihi perhatiannya untuk beramal. Sehingga ia akan berusaha untuk ikhlas, loyal, ittiba’ dan ihsan di dalamnya. Bersamaan dengan itu ia menyaksikan betapa banyak anugerah yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya dan ia tetap menyadari betapa ia telah banyak melalaikan hak-hakNya.

Sumber: Muslim.or.id (https://muslim.or.id/143-perintah-mensucikan-hati-dan-keutamaannya.html), Asysyariah.com (http://asysyariah.com/qalbun-salim-hati-yang-selamat/), Islamkafah.com (https://www.islamkafah.com/menggapai-hati-yang-selamat/),  Rumaysho.com (https://rumaysho.com/2833-menghadap-allah-dengan-hati-yang-bersih.html)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *