SAHABIYAH YANG DIJAMIN SYAHID

  • akhwat
  • Monday 25 May 2015
  • Uncategorized
  • 0

“TETAPLAH DI RUMAHMU, ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA TELAH KARUNIAKAN KESYAHIDAN KEPADAMU”

Bismillah…

Ia biasa dikenal dengan julukan Ummu Waraqah binti Al Harist. Ia adalah wanita anshar yang memeluk Islam bersama al-sabiqat (kalangan wanita yang memeluk Islam pada masa-masa awal). Ummu Waraqah merupakan kaum anshar yang turut bergembira atas datangnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke Madinah.

Setelah menyatakan keislamannya, ia jatuh cinta pada keimanan dan membuktikannya dengan berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia tidak pernah bosan membaca dan mempelajari ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala baik siang maupun malam. Hal ini yang membuat Ummu Waraqah menjadi qari’ah yang baik dengan pemahaman yang baik dan hafalan yang sempurna. Ia juga rajin mengumpulkan ayat yang tertulis di tulang binatang, kulit binatang, dan lainnya. Ayat yang dikumpulkan itu membuat Zayd bin Tsabbit memintanya membantu kodifikasi      Al-Qur’an. Seperti itulah sosok Ummu Waraqah Radhiallahu anha, yang selain rajin berpuasa dan bangun malam, ia juga rajin mengabdi kepada agamanya.

Tentang Ummu Waraqah, Abdurrahman bin Khallad berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sering bertandang ke rumahnya. Bahkan beliau menunjuk seorang muadzin khusus untuknya, dan ia disuruh menjadi imam bagi keluarganya. Kulihat muazinnya seorang syekh besar” (1)

Rumah Ummu Waraqah beralih fungsi menjadi masjid. Itu telah menjadi ketetapan Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan mempertimbangkan keluhurannya. Ummu Waraqah pun diangkat sebagai imam bagi kaum perempuan. Dalam hal ibadah, ilmu, dan kezuhudan, mereka banyak belajar darinya.

Anugerah Kesyahidan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa dengan sungguh-sungguh memohon kesyahidan maka Allah Subhanahu Wata’ala akan menempatkannya di jajaran para syuhada, meskipun ia mati di atas ranjangnya.” (2)

Ummu Waraqah sangat mencintai jihad, karena ia mendambakan kesyahidan di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Sewaktu perang badar, Ummu Waraqah meminta izin agar diperkenankan pergi bersama mereka mesipun hanya menjadi juru rawat.

Diriwayatkan dari Ummu Waraqah bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berangkat menuju medan Perang Badar, ia berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, izinkan aku berperang bersamamu. Aku akan merawat yang sakit diantara kalian. Semoga dengan begitu Allah Subhanahu Wata’ala menganugerahiku kesyahidan.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tinggallah di rumahmu, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala menganugeraimu kesyahidan.” (3) Maka sejak saat itu ia disebut syahidah.

Berita mengenai kesyahidan dirinya yang diwartakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa terngiang-ngiang di telinga Ummu Waraqah. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  wafat, Ummu Waraqah sangat sedih. Namun, ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tetap rajin beribadah, bersikap zuhud, rajin bangun malam, dan rajin berpuasa.

Akhirnya, saat paling indah yang dinanti-nanti datang. Tiba waktu bagi terwujudnya anugerah kesyahidan. Saat itu, tak seorang pun menemani Ummu Waraqah di rumahnya, selain seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan. Ia mewarisi keduanya dari keluarganya. Ketika memeluk Islam, Ummu Waraqah menjanjikan kemerdekaan bagi mereka jika ia meninggal dunia. Mendengar itu, sudah pasti mereka berharap Ummu Waraqah cepat mati. Tetapi, bagaimana itu terjadi?

Budak yang sekian lama ia lindungi, ia beri makan, dan ia curahi kasih sayang, ternyata membalas cintanya dengan pengkhianatan. Pada suatu malam yang telah disepakati, mereka bersekongkol membunuhnya. Akhirnya Ummu Waraqah meninggal dunia sebagai syahidah akibat kezaliman dan pengkhianatan.

Kedua budak pembunuh itu melarikan diri untuk menghindari hukuman. Namun mereka tidak dapat pergi jauh. Mereka pun diseret ke Madinah, mereka dieksekusi lalu disalib supaya menjadi pelajaran bagi yang lain. Madinah dirundung duka. Hampir semua hati terluka mendengar pembunuhan tragis seorang mukminah berhati suci . (4)

Begitulah kisah kepergian seorang wanita ahli ibadah dan zahidah. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhai Ummu Waraqah yang banyak mengabdi kepada-Nya dan Rasul-Nya.

Keterangan:

1. HR Abu Daud. Hadis ini dikategorikan hasan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (553)

2.Diriwayatkan oleh Muslim, Ibn Majah, al-Nasa’i, al-Tirmidzi dan Abu Daud dari Sahl ibn Hanif

3. HR Abu Daud. Hadis ini dikategorikan hasan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (152)

4. Muhammad Ali Quthb, al Mubasysyirat bi al Jannah.

 

Sumber : “Sahabat – Wanita Rasulullah” karya  Mahmud al-Mishri.

See more at: http://matasalman.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *