Sifat Malu Adalah Akhlak Para Nabi Terdahulu

Puji syukur hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak menerima segala pujian dan ungkapan syukur. Karunia dan rahmat-Nya telah banyak kita nikmati, hidayah, dan inayah-Nya telah banyak kita rasakan. Kesyukuran hakiki hanya dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Sebab, tanpa itu kita termasuk orang-orang yang kufur nikmat.

Malu adalah suatu akhlak terpuji sebab merupakan warisan para Nabi terdahulu, artinya para Nabi telah mengajarkan sebelumnya kepada kita tentang rasa malu.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amr Al-Anshary Al-Badry radhiallahu ’anhu, dia berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari, no. 3483).

Para Ulama mengatakan bahwa perkataan “Jika Tidak Malu, Lakukanlah Sesukamu.” Perkataan ini memiliki dua makna:
Pertama, kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah. Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan setiap orang.
Kedua, kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:

a) Kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala:
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:”Lakukanlah apa yang kamu kehendaki! Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kamu kerjakan.” (QS. Fushilat: 40).

Maksud ayat ini adalah bukanlah maksudnya, agar melakukan sesuka hati kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah suatu ancaman yaitu jika kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan mendapatkan akibatnya.

b) Kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa saja yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemungkaran. Sedangkan, yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu. Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mutawatir:
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beberapa keutamaan dari sifat malu, diantaranya:
1.Rasa malu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
”Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161).
2.Rasa malu ini juga dipuji oleh Allah subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
”Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Menutupi, Allah cinta kepada sifat malu dan tertutup, maka jika salah seorang di antara kalian itu mandi maka hendaklah menutupi diri.” (HR. Abu Daud no. 4014, dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani).

Beberapa contoh akhlak yang mulia ini dapat kita lihat, seperti pada Nabi Musa ’alaihis salam. Nabi Musa ’alaihis salam adalah pemalu dan selalu tertutup auratnya. Tidak pernah terlihat kulitnya karena malu. Kemudian Bani Israil mencelanya. Mereka sampai mengatakan bahwa Musa selalu tertutupi badannya karena dia terkena kusta atau penyakit kulit. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh generasi teladan yang pertama, yang telah mewarisi akhlak mulia dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, mereka itu sangatlah pemalu. Di antara mereka yang dijadikan contoh yang mengagumkan dalam hal ini, hingga para malaikat pun malu kepadanya adalah Utsman bin ’Affan radhiallahu ’anhu. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
اَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ
“Yang paling jujur dalam rasa malu adalah Utsman.” (Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1224).

Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga mengatakan tentang Utsman:
أَلاَ أَسْتَحِى مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِى مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ
”Apakah aku tidak malu pada seseorang yang para Malaikat saja malu kepadanya.” (HR. Muslim, no.6362).

Semoga kita termasuk dalam golongan hamba Allah subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa diberikan sifat malu untuk melakukan kemaksiatan, serta senantiasa menjaga sifat malu untuk menjaga kehormatan kita sebagai makhluk Allah subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu’alam.

Sumber: www.rumaysho.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *