Tazkiyatun Nafs

 

Assalamu Alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

Segala puji bagi Allah atas rahmat,karunia,serta hidayahnya sehingga kita masih sempat menjalani kehidupan kita hingga saat ini serta nikmat iman dan islam yang masih kita peroleh hingga sekarang.

Sholawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersusah payah menjadi jembatan penyambung nikmat islam yang diturunkan oleh Allah subhanah wa ta’ala hingga sampai ke ummat islam saat ini.

Sahabat ,dalam kesempatan kali ini kami ingin membahas tentang tazkiyatun nafs. Mungkin dari kita masih kurang paham betul apa sih yang dimaksud tazkiyatun nafs itu. Menurut Abul Qasim Husain bin Muhammad, beliau lebih populer dikenal dengan Ragib Al-isfahani (wafat 502 H), beliau mengatakan bahwa Tazkiyatun Nafs adalah upaya manusia untuk mensucikan jiwa dan dirinya, sehingga ia mempunyai sifat terpuji pada dirinya di dunia tentunya dan kelak di akhirat mendapatkan pahala dan balasan yang besar.

Apa makna tazkiyatun nafs?

Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Karena itulah zakat, yang satu akar dengan kata at-tazkiyah disebut zakat karena ia kita tunaikan untuk membersihkan/menyucikan harta dan jiwa kita. Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian  jiwa atau nafsu kita.

Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna an-numuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa kita agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji.

Dari tinjauan bahasa diatas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal. Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela (disebut pula takhalliy – pakai kha’), seperti kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya. Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik/terpuji (disebut pula tahalliy – pakai ha’), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.

Mengapa tazkiyatun nafs itu penting?

Pembahasan tentang tazkiyatun nufus merupakan pembahasan yang penting, dimana akan ditanya oleh Allah Ta’ālā pada hari Kiamat nanti. Dan Allah Ta’ālā hanya akan menerima manusia yang datang kepadaNya dengan hati yang selamat.

Allah Ta’ālā berfirman,

وَلاَ تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ ، إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu`araa’: 87-89)

 

Dan Allah Ta’ālā akan bertanya kepada hati, sebagaimana yang telah dijelaskan di muka. Seperti firman Allah Ta’ālā:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

 “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Setiap anggota badan yang disebutkan dalam ayat di atas akan ditanya pada hari Kiamat. Hatinya akan ditanya tentang apa yang terlintas, apa yang difikirkan, dan apa yang diyakininya. Pendengaran akan ditanya tentang segala hal yang didengarnya. Dan seterusnya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir.

Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“…Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”

Abu Hurairah –radhiyallāhu ‘anhu– mengatakan,

“Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan ibarat pasukannya. Apabila baik rajanya, maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.”

 Imam Ibnul Qayyim –rahimahullāh– mengatakan,

“…Amalan hati adalah pokok sedangkan amalan badan itu adalah penyerta dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu laksana ruh sedangkan amalan itu laksana badan. Apabila ruh meninggalkan badan, maka ia akan mati. Maka, mempelajari hukum-hukum hati lebih penting daripada mempelajari hukum-hukum badan.”

Imam Ibnul Qayyim –rahimahullāh– menjelaskan bahwa amalan hati lebih penting daripada amalan badan namun hal ini tidak berarti bahwa beliau –rahimahullāh– berpendapat bahwa amalan badan tidak temasuk bagian dari iman.

Amalan hati adalah pokoknya amal. Meskipun seseorang beramal dengan amalan yang sangat banyak namun hatinya tidak ikhlas karena Allah Ta’ālā, maka amalannya tidak akan diterima Allah Ta’ālā.

Maka permasalahan tentang hati merupakan perkara yang penting. Tidaklah mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terus-menerus mengingatkan ummatnya tentang hati apabila hal tersebut tidak penting. Tidaklah para Shahabat –radhiyallāhu ‘anhum– mewasiatkan agar memperhatikan hati apabila hal ini tidak penting.

Oleh karenanya, pembahasan tentang hal ini harus terus diulang-ulang, dikaji dan disampaikan dalam kajian-kajian dan tulisan dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran, sebab terkadang seseorang tidak mengetahui bahwa dirinya terjangkit penyakit hati. Adapun orang-orang yang dapat mengetahui bahwa ia terjangkit penyakit hati adalah para ulama. Merekalah tabib-tabib (dokter-dokter) hati.

Dan penyakit-penyakit hati ini menjangkiti hampir semua orang, baik itu orang awam maupun penuntut ilmu, bahkan juga ustadz, da’i, kiyai, dan lainnya.

Mereka tidak menyadari bahwa di dalam hatinya terjangkiti penyakit hati, baik itu riya’, iri, dengki, ujub, sombong, dan lain sebagainya.

Allah Ta’ālā menjanjikan kepada orang yang mensucikan jiwanya dengan ganjaran, pahala, dan Surga.

Allah Ta’ālā berfirman,

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى

“Tetapi barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga-surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang menyucikan diri.”(QS. Ṭāhā: 75-76)

Juga firman-Nya,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Rabb-nya, lalu ia shalat.” (QS. Al-A’laa: 14-15)

Tahap Mensucikan Jiwa

  1. At-Tathahharu
    Artinya:Mengangkat dan membersihkan jiwa dari segala penyakitnya.
    Pembersihan diri ini diawali dengan taubat. Taubat yaitu kembali pada pangkuan dan pelukan Allah, meninggalkan segala dosa dan maksiat serta berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Dan kemudian memulai hari-hari anda dengan indah yang dihiasi dengan keimanan dan keta’atan. Diri anda akan terasa ringan dan “plong” apabila anda berhasil mengangkat penyakit-penyakit hati atau penyakit jiwa/batin.
  1. At-Takhalluq
    Yaitu memasukkan/menghiasi ke dalam jiwa itu segala sesuatu yang selayaknya berada di dalam jiwa. Ya, setelah jiwa dibersihkan dan disucikan dengan berbagai cara dengan usaha (juhud) dan sungguh-sungguh (ijtihad) dan latihan (riyadhah) baik dengan taubat, muhasabah, dan sebagainya. Kini, jiwa yang sudah mulai bersih dari noda penyakit hati/jiwa/batin itu dihiasi dengan sesuatu yang selayaknya ada di dalam jiwa, istilahnya kembali pada fitrah manusia dan selayaknya manusia dengan akhlaq-akhlaq baik (akhlaqul karimah) yang berhubungan dengan jiwa atau hati Baik itu husnudzhan, sabar, tawadhu'(rendah hati), jujur, amanah, tawakkal, sabar, tawadhu’, tadharru’, qana’ah, iffah, dan lain-lain sebagainya.
  1. Al-Iqtida’
    Yaitu meneladani perilaku yang bersumber dari nama-nama Allah (Asma’ul Husna) yang perilaku Rasul. Allah S.W.T mempunyai 99 nama (asmaul-husna), dari nama-nama yang baik itu dapat menjadi media kita untuk sadar atau was-was, atau bisa juga disebut media menambah iman kita. Diantaranya nama Allah itu yaituMaha Adil,ya dengan nama ini kita tahu Allah itu maha adil, jadi apapun yang menimpa kita itu adalah adilnya Allah walau akal kita tidak sanggung melihat hikmahnya. Dengan ini kita akan terjauhi dari sifat Dzhan , yaitu berburuk sangka kepada Allah.

Jalan Membersihkan Jiwa:

  1. Shalat
  2. Zakat, infaq
  3. Puasa
  4. Haji
  5. Tilawah Al-Qur’an
  6. Dzikir
  7. Tafakkur
  8. Mengingat Mati dan Pendek Angan-angan
  9. Muraqabah, Muhasabah, Mujahadah dan Mu’aqabah
  10. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Jihad
  11. Pelayanan dan Tawadhu’ (merendahkan hati)
  12. Mengetahui pintu-pintu masuk syetan ke dalam jiwa dan menutup jalan-jalannya.
  13. Mengetahui berbagai penyakit hati dan kesehatannya berikut cara melepaskannya

Sekian yang dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *