Untaian Nasehat Untuk Mahasiswa Baru: Masa Muda Untuk Apa ? (bag. 3)

  • admin
  • Wednesday 22 July 2015
  • Uncategorized
  • 0

Siapakah Kita Dibanding Mereka?

Para pendahulu kita yang salih -sahabat-sahabat Nabi- adalah orang-orang yang tidak diragukan keimanannya. Sampai-sampai orang sekelas Abu Bakar dikatakan bahwa imannya lebih berat daripada iman seluruh penduduk bumi selain para Nabi. Orang-orang yang telah mendapatkan janji surga. Meskipun demikian, mereka bukan orang yang sombong dan angkuh dengan prestasinya.

Justru mereka khawatir akan diri dan amal-amalnya. Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara mereka semua takut dirinya tertimpa kemunafikan.”

Ya, siapakah kita jika dibandingkan dengan mereka ? Sebagian pemuda atau mahasiswa begitu bangga dan pede dengan kecerdasan dan prestasinya, seolah-olah kesuksesan adalah buah ciptaannya. Dialah yang menjadi penentu atas segalanya. Dia lupa bahwa kepandaian, kecerdasan, dan pemahaman adalah karunia dari Allah Ta’ala.

Betapa seringnya kita lalai dari bersyukur kepada Allah. Meskipun demikian, kita sering merasa bahwa diri kitalah yang berjasa, diri kitalah yang menjadi kunci kebaikan, padahal di tangan Allah semata segala kebaikan. Oleh sebab itu kita harus merasa khawatir akan nasib amal-amal kita. Di samping kita terus berharap dan berusaha menggapai ridha-Nya.

Mensyukuri Nikmat Allah

Banyak anak muda yang lalai terhadap masa mudanya, lalai dari nikmat kesehatan dan waktu luang yang diberikan kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dalam hal keduanya; sehat dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Kesehatan adalah nikmat dari Allah. Waktu luang adalah juga nikmat dari Allah. Wajib bagi kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah itu. Nikmat yang sedemikian banyak, sampai-sampai kita pun tidak bisa menghingganya.

Dikatakan oleh Salamah bin dinar, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.”

Banyak orang yang larut dalam kesenangan-kesenangan semu. Mereka tertawa-tawa, bersuka ria dan membuang-buang waktunya dalam perkara yang sia-sia bahkan dosa. Mereka mengira bahwa semua itu bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Hanya sekedar untuk mengisi malam minggu katanya.

Atau sekedar mengisi kekosongan waktu dengan mengobrol dan merokok sampai larut malam hingga akhirnya tidak shalat subuh berjamaah di masjid. Padahal salah satu ciri orang munafik adalah malas mendirikan sholat dan berat untuk hadir sholat subuh dan isyak berjamaah di masjid (bagi kaum lelaki).

Begitu juga dari kalangan wanita. Tidak sedikit kaum mahasiswi dan remaja putri yang keluar malam-malam untuk berdua-duaan dengan pacarnya, mendengarkan lagu-lagu penuh hembusan nafsu dan menonton konser band idola sambil berdesak-desakan dengan lawan jenis. Tentu perkara-perkara semacam ini akan mendatangkan banyak kerusakan. Dan yang lebih dalam lagi, bahwa itu bukan termasuk bentuk bersyukur kepada Allah …

Jalan Kebahagiaan

Ketahuilah, wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya kebahagiaan yang kita idam-idamkan adalah sebuah kenikmatan abadi di akhirat nanti.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman, “Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang salih, kesenangan yang belum dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum terbersit dalam hati manusia.” (HR. Bukhari)

Iman dan takwa adalah bekal kita untuk meraih kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang akan dirasakan oleh orang-orang yang beriman di dunia dan di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim).

Kebahagiaan di dalam hati orang-orang yang beriman adalah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan untaian pantun dan sajak pujangga. Kebahagiaan yang membuat seorang budak hitam yang bernama Bilal bin Rabah lebih memilih disiksa daripada kembali kepada kekafiran. Kebahagiaan yang membuat seorang Salman Al Farisi berpetualang mencari kebenaran Islam tanpa kenal lelah. Kebahagiaan yang membuat seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq rela mencurahkan semua hartanya untuk sedekah di jalan Allah.

Kebahagiaan yang tidak lekang oleh masa, tidak hancur oleh umur dan tidak surut karena ocehan dan cercaan manusia. Sebab kebahagiaan itu telah bersemayam di dalam lubuk hatinya. Kemanapun dia pergi maka kebahagiaan selalu menyertainya.

Selamatkan Hatimu…!

Setan telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia. Ia datang dengan berbagai tipu daya dan bala tentaranya.. Ia juga mengalir dalam tubuh manusia seperti peredaran darah. Ia memberikan rayuan dan menebar angan-anagn palsu. Ia hanya akan mengajak kelompok/hizb-nya untuk bersama-sama menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Setan mengutus pasukan-pasukannya setiap hari untuk menebar fitnah dan kekacauan. Baik fitnah berupa kesenangan hawa nafsu yang terlarang, demikian pula fitnah berupa pemyimpangan pemikiran dan pemahaman. Inilah dua senjata iblis dalam menyesatkan bani Adam dari jalan yang lurus.

Oleh sebab itu sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjauhi langkah-langkah setan dan tipu dayanya. Kita harus menjaga hati kita dari bujukan dan godaannya.. Lebih daripada itu kita harus memurnikan ibadah kepada Allah semata, inilah sebab utama agar bisa terbebas dari jebakan dan godaannya, dengan pertolongan Allah jua.

Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tidaklah bermanfaat harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (Asy-Syu’araa: 88-89).

Hati yang selamat adalah hati yang beriman, hati insan bertauhid, hati yang bersih dari syirik dan kemunafikan. Abu ‘Utsman An-Naisaburi berkata, bahwa hati yang selamat (qalbun salim) itu adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram dengan sunnah/tuntunan Nabi.

Marilah, kita memohon kepada Allah untuk mensucikan jiwa-jiwa kita, dan memberikan ketakwaan ke dalam hati kita, sebagaimana kita memohon agar Allah mematikan kita dalam keaadaan Dia ridha kepada kita …

Maut Tidak Pandang Bulu

Anak muda bukan jaminan jauh dari maut. Betapa sering kita mendengar anak kecil yang mati karena kecelakaan atau menjadi korban penganiayaan. Kita juga mendengar anak muda yang mati tertabrak dan ada juga yang mati karena menjadi korban kerusuhan dan tawuran.

Bahkan, anak muda yang soleh, rajin ke masjid, aktif membantu kegiatan dakwah, bahkan sudah hampir lulus kuliah pun ada yang tidak luput dari jemputan malaikat maut. Siapa diantara kita yang merasa aman ? Siapa diantara kita yang merasa dirinya pasti selamat di akhirat ?

Umar bin Khaththab berkata, “Seandainya ada yang berseru dari langit: masuklah kalian semua ke dalam surga kecuali satu, aku takut satu orang itu adalah aku. Dan seandainya ada yang berseru dari langit masuklah kalian semua ke dalam neraka kecuali satu: aku berharap satu orang itu adalah aku.”

Kematian pasti datang, dan kita tidak bisa mengundurkan atau memajukannya walaupun 1 jam saja. Siapa yang menunda-nunda taubat dan kebaikan pasti akan menyesalinya. Orang kafir di akhirat pun ingin dikembalikan ke alam dunia untuk melakukan amal salih yang dulu ditinggalkannya. Namun angan-angan pada hari itu tinggal angan-angan saja.

Tsabit Al-Bunani berkata, “Beruntunglah orang yang banyak mengingat kematian. Tidaklah seorang yang memperbanyak mengingat kematian melainkan pasti tampak pengaruhnya di dalam amal perbuatannya.”

Wahai anak muda, anda dan kita semua tidak tahu kapankah malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita … maka bersiaplah; bersiaplah dengan iman dan amal salih …

Saatnya Melangkah…

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan datang menghampiri, kita semakin dekat menuju kematian. Hanya ketakwaan bekal terbaik yang bisa kita siapkan. Barangsiapa yang bertakwa dan bersabar maka sesungguhnya Allah tidak akan mneyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. Allah mencintai orang-orang yang rajin bertaubat dan mensucikan diri. Allah mencintai orang-orang yang bersabar dalam menghadapi cobaan.

Seorang ulama besar pernah berkata, “Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia Rabb pemilik ‘Arsy yang agung, semoga Allah melindungi dirimu di dunia dan di akhirat dan menjadikan dirimu diberkahi dimanapun kamu berada, dan menjadikan kamu termasuk orang yang apabila diberi nikmat bersyukur, apabila diberi cobaan bersabar, dan apabila berbuat dosa beristighfar. Sesungguhnya ketiga hal itu adalah pertanda kebahagiaan.”

Mahasiswa muslim -dimanapun anda berada- tugas dan tanggung jawab masa depan bangsa ini ada di pundak kita. Sebagaimana dikatakan oleh seorang tokoh gerakan Islam, “Dirikanlah negara Islam di dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di bumi kalian.”

Kita tentu berharap negeri ini menjadi negeri yang aman dan berlimpah rizki dan kebaikan dari langit dan dari bumi, dan itu semuanya terpulang kepada perjuangan dan upaya kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada dirinya sendiri.” (Ar-Ra’d: 11).

Maka, mulailah perbaikan itu dari diri kita masing-masing …

Barakallahu fiikum !            

***

Penulis: Ari Wahyudi (muslim.or.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *